Berita

Anton Tabah Digdoyo/Net

Politik

Anton Digdoyo: Presiden Itu Negarawan, Bukan Politisi!

SELASA, 31 OKTOBER 2017 | 12:54 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat, Brigjen Pol. (Purn) Dr. Anton Tabah Digdoyo menyayangkan pertanyaan Presiden Joko Widodo yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

"Berkali Presiden Jokowi buat pernyataan yang tak jelas, bersayap dan membingungkan masyarakat. Contoh, bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia meroket, mana buktinya?" kata Anton yang juga salah satu pengurus MUI Pusat ini, Selasa (31/10).

Kemudian Jokowi pernah mengatakan yang mengancam Pancasila bukan PKI tapi radikalisme. Lalu pada 28 Oktober, Jokowi menyatakan bahwa ada kelompok yang ingin mengganti ideologi Pancasila.


"Ini sangat membingungkan masyarakat, padahal Presiden harus wajib mencerahkan rakyat, mensejahterakan rakyat," ucap dia.

Anton mengungkapkan, Presiden itu adalah seorang negarawan, pimpinan negara dan pemerintahan, bukan politisi atau budayawan. Maka kalau bicara harus yang pasti-pasti, kata-kata bersayap harus benar-benar dihindari.

Dia memaparkan, sesuai fakta di lapangan, daya beli menurun. Jadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diklaim Jokowi meroket hanya bual. Yang benar, pertumbuhan ekonomi malah terus menurun.

"Lalu apakah PKI tidak ancam Pancasila? Apakah Jokowi merestui PKI hidup lagi korelatif dengan pidato Mendagri (Tjahjo Kumolo) bahwa Perppu Ormas (kini UU) tidak ditujukan pada paham komunisme yang tumbuh cepat di Indonesia? Lalu statemen terbaru Jokowi bilang ada kelompok yang ingin ganti ideologi Pancasila itu yang mana kalau bukan komunisme? Karena selama ini tak ada kelompok yang ingin mengganti Pancasila," imbuh Anton.

Dia pun membandingkan dengan demo jutaan umat yang menuntut penista Al-Quran dipenjara beberapa waktu lalu.

"Apakah itu ingin gantikan Pancasila? Apakah di negara muslim terbesar di dunia dalam pemilu milih pemimpin seiman itu ingin gantikan Pancasila? Apakah menuntut hak-hak pribumi dan kembali ke UUD 45 asli itu ingin gantikan Pancasila?" ujarnya.

Menurut Anton, semua itu telah diatur secara konstitusi dan yuridiksi bahkan ada yurisprudensi. Tidak satu pun dari kasus tersebut melanggar UUD apalagi UU turunannya.

"Maka saya sarankan Jokowi selaku Presiden harus bicara yang pasti dan terbukti secara akurat agar tak membingungkan masyarakat," pungkasnya. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya