Berita

Pro persatuan Spanyol/BBC

Dunia

Dukung Persatuan Spanyol, Ratusan Ribu Massa Tuntut Penjarakan Eks Pemimpin Catalunya

SENIN, 30 OKTOBER 2017 | 06:45 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Ratusan ribu orang berkumpul di Barcelona akhir pekan kemarin untuk menyuarakan persatuan bangsa dan negara pasca upaya referendum kemerdekaan Catalunya.

Massa juga menuntut pemenjaraan pemimpin Catalunya yang dipecat oleh pemerintah pusat yakni, Carles Puigdemont. Ia dipecat setelah pemerintah pusat Spanyol mengambil alih wilayah otonomi khusus tersebut pasca terjadinya krisis politik akibat upaya memerdekakan diri tersebut.

Veteran politisi Catalunya yang juga adalah mantan Presiden Parlemen Eropa Joseph Borrell ikut dalam aksi tersebut. Ia mengatakan kepada kerumunan bahwa Puigdemont boleh berbicara atas nama beberapa orang Catalunya soal kemerdekaan, namun sebagian lain seperti dirinya sendiri tidak berpihak pada kemerdekaan.


Sementara itu Menteri Luar Negeri Spanyol Alfonso Dastis mengatakan bahwa Puigdemont kendati sudah dipecat, namun bisa mencalonkan kembali pada bulan Desember mendatang dalam pemilu cepat yang akan dilakukan oleh pemerintah Spanyol. Namun dengan catatan, jika pada saat itu ia belum dipenjara.

Komentar Alfonso Dastis datang saat jaksa agung Spanyol bersiap untuk mengajukan tuntutan pidana kepada pemimpin pro-kemerdekaan tersebut, yang mengatakan bahwa Puigdemont dipecat karena tidak mengakui perintah dari Madrid.

Sementara itu, dalam sebuah surat terbuka, Menteri Dalam Negeri Juan Ignacio Zoido telah mendesak kepolisian daerah Catalunya untuk menerima arahan sementara dari Madrid.

Dikabarkan BBC, Spanyol telah dicengkeram oleh sebuah krisis konstitusional sejak sebuah referendum, yang diselenggarakan oleh pemerintahan separatis Puigdemont, yang diadakan awal bulan ini sebagai pembangkangan sebuah keputusan oleh Mahkamah Konstitusi yang telah menyatakan bahwa tindakan tersebut ilegal.

Pemerintah Catalunya sendiri mengatakan bahwa dari 43 persen pemilih potensial yang ambil bagian, 90 persen di antaranya mendukung kemerdekaan.

Hal itu memicu terjadinya krisis politik yang beurjung pada deklarasi kemerdekaan sepihak Jumat pekan lalu oleh parkemen Catalunya. Hal itu segera memicu tindakkan keras dari Spanyol serta penolakan dari banyak negara di Eropa. [mel]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya