Berita

Politik

Demi Bangun Daerah, Politisi Lintas Partai Kompak Bergandengantangan

JUMAT, 27 OKTOBER 2017 | 23:28 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

RMOL. Politisi lintas partai politik yang sama-sama berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sepakat untuk bergandengan tangan membangun wilayah perbatasan.

Kesepakatan ini mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku "Merah Putih Tergadai di Perbatasan" di Hotel Sotis, Kupang, NTT (Jumat, 27/10).

"Dari manapun kamu, dari partai apapun kamu, mari kita sama-sama membangun wilayah perbatasan,” kata Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR, Herman Hery, kepada penulis buku, Winston Neil Rondo, yang merupakan Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD NTT.


Hal tersebut juga didukung oleh Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR, Fary Francis. Ketua Komisi V DPR ini bahkan menyebut Herman sebagai 'Ketua Fraksi NTT’ di DPR.

"Beliau (Herman Hery) ini ketua fraksinya NTT. Kalau ada persoalan terkait NTT yang harus dipecahkan, beliau selalu mengajak kami untuk berembuk," puji Fary.

Dalam paparannya, Herman mengatakan isu perbatasan di NTT sering diangkat melebihi konteksnya. Tujuannya untuk bisa mendatangkan dana.

"Beberapa puluh tahun NTT ini yang dijual ke pusat dengan isu kemiskinan, dimana proposal bantuan itu dijajakan dari pintu ke pintu. Rakyat diajak untuk mengharapkan bantuan terus menerus. Tapi tidak pernah berpikir, bagaimana manusianya, pola pikirnya dan etos kerjanya dibangunkan,” ujarnya.

Bagi Herman, bantuan haruslah membuat orang bangun. “Tapi tidak jarang, bantuan justru membuat orang makin terpuruk,” katanya. Menurut anggota Komisi Hukum DPR ini, NTT justru menyimpan potensi yang besar jika ditangani secara khusus.

"Kita ini berdiri dalam belahan bumi yang luar biasa. Ini (NTT) raksasa tidur, masalahnya ini raksasanya harus digelitik dan dibangunkan," ujarnya disambut tepuk tangan para hadirin.

Buku "Merah Putih Tergadai di Perbatasan" ini ditulis oleh Winston bersama Jemmy Setiawan, mantan aktivis mahasiswa yang sekarang menjadi pengusaha. Buku yang diterbitkan Kompas Gramedia ini banyak bercerita tentang nilai-nilai kebangsaan yang justru ‘tergadai’ di wilayah perbatasan sebagai etalase NKRI. [ysa]

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya