Berita

Ratu Rania saat berkunjung ke Bangladesh/Net

Dunia

Soal Rohingya: Ratu Yordania: Banyak Yang Tak Melihat Muslim Sebagai Korban

RABU, 25 OKTOBER 2017 | 13:07 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Ratu Rania dari Yordania meminta masyarakat internasional untuk menanggapi secara efektif dan dengan kerendahan hati penderitaan yang dialami oleh minoritas Muslim Rohingya di Myanmar.

"Dengan tidak menghormati atau memperhatikan prinsip-prinsip hukum kemanusiaan dan internasional, diskriminasi terhadap dan penganiayaan minoritas Rohingya terus berlanjut, dalam pandangan penuh tentang dunia," kata Ratu Rania dalam sebuah pernyataan yang diberikannya saat berkunjung ke Kamp pengungsi di Kutupalong Bangladesh awal pekan ini.

"Kita harus bertanya, mengapa keadaan kelompok minoritas Muslim ini diabaikan? Mengapa penganiayaan sistematis ini telah diizinkan untuk bermain terlalu lama?" tambahnya.


Kedatangannya ke Kamp tersebut adalah dalam kapasitasnya sebagai anggota dewan Komite Penyelamatan Internasional (International Compcue Committee atau IRC) dan sebagai advokat untuk pekerjaan agen kemanusiaan PBB.

Ia berkeliling ke Kamp Pengungsi Kutupalong, bertemu dengan beberapa wanita dan anak-anak Rohingya, yang baru saja menyeberang ke Bangladesh dari Rakhine negara di Myanmar.

Sang Ratu prihatin dengan eskalasi ekerasan yang mengejutkan terhadap minoritas Muslim Rohingya di Myanmar di mana lebih dari 600.000 Muslim Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine Myanmar sejak Agustus lalu.

Para pengungsi menceritakan kebrutalan yang mereka hadapi di tanah air mereka, juga kesulitan dan kekurangan yang terus mereka alami di kamp-kamp darurat yang penuh sesak.

"Sebelum datang ke sini, saya telah mempersiapkan diri untuk menyaksikan kondisi yang sangat menyedihkan, namun cerita yang saya dengar hari ini sangat memilukan dan menyiksa," katanya.

"Saya mendengar tentang pemerkosaan sistematis terhadap gadis-gadis muda, yang terjebak di sekolah dan diperkosa oleh tentara. Saya mendengar bayi ditendang seperti bola dan diinjak. Saya mendengar anggota keluarga bercerita bagaimana mereka melihat orang tua mereka terbunuh, tepat di depan mata mereka," kenangnya.

"Tak bisa dimaafkan bahwa krisis ini sedang berlangsung di panggung dunia kepada khalayak yang sebagian besar acuh tak acuh. Dunia nampaknya diam terhadap apa yang banyak orang sekarang mengakui sebagai pembersihan etnis Muslim Rohingya, "katanya.

Mengutip meningkatnya sentimen dan stereotip anti-Muslim, dia mempertanyakan apakah permusuhan terhadap umat Islam telah mencapai titik di mana banyak orang di dunia tidak dapat melihat Muslim sebagai korban.

"Ini membuat orang bertanya-tanya apakah meja-meja itu diputar, dan tindakan kekerasan ini dilakukan oleh umat Islam, jika tanggapan dunia akan tidak terdengar seperti tanggapan yang kita lihat di sini hari ini," tambahnya seperti dimuat Albawaba.

Ratu menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan respons kemanusiaan terhadap keadaan darurat yang cepat terungkap ini, yang meminta masyarakat internasional untuk bertindak tanpa penundaan. [mel]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya