Berita

Global

Kritik Dua Mantan Presiden Soal Iklim Politik AS Di Bawah Kepemimpinan Trump

JUMAT, 20 OKTOBER 2017 | 14:46 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Dua mantan Presiden Amerika Serikat yakni Barack Obama dan George W Bush menyuarakan keprihatinan mereka mengenai iklim politik yang saat ini terjadi di negeri Paman Sam tersebut.

Kendati keduanya sama-sama tidak menyebut nama Donald Trump, namun komentar keduanya tampak seperti teguran dan kritikan untuk Trump yang kini memimpin Amerika Serikat.

Dalam dua kesempatan berbeda di hari yang sama (Jumat, 19/10), Obama mendesak Amerika untuk menolak politik perpecahan dan ketakutan, sedangan Bush mengkritik soal adanya intimidasi dan prasangka dalam kehidupan publik masyarakat Amerika saat ini.


Berbicara di sebuah acara kampanye Partai Demokrat di Newark, New Jersey, Obama mengatakan bahwa Amerika harus mengirim sebuah pesan kepada dunia bahwa negara tersebut menolak sebuah perpecahan politik dan menolak politik ketakutan.

"Apa yang tidak dapat kita miliki adalah perpecahan politik yang sama yang telah kita lihat berkali-kali sebelum berabad-abad yang lalu," jelas Obama.

"Beberapa politik yang kita lihat sekarang, kami pikir kita meletakkan itu ke tempat tidur. Itu adalah orang-orang yang terlihat 50 tahun yang lalu. Ini adalah abad ke-21, bukan abad 19," tambahnya seperti dimuat BBC.

Tema serupa juga diangkat Obama di acara lain di Richmond, Virginia.

"Kita memiliki orang-orang yang dengan sengaja berusaha membuat orang marah, untuk mengutuk orang-orang yang memiliki gagasan berbeda, untuk mendapatkan basis semua menjadi kacau karena menyediakan keuntungan taktis jangka pendek," kata Obama.

Berbicara beberapa jam sebelumnya di New York, Bush menyebut bahwa Politik Amerika Serikat tampaknya lebih rentan terhadap teori konspirasi dan rekayasa langsung.

"Ada beberapa tanda bahwa intensitas dukungan terhadap demokrasi itu sendiri telah berkurang, terutama di kalangan kaum muda," tambahnya.

"Kita telah melihat nasionalisme terdistorsi ke dalam nativisme, melupakan dinamisme," sambungnya.

Kedua mantan presiden tersebut belum pernah mengemukakan komentar langsung dan secara terbuka mengenai kepemimpinan Trump. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya