Berita

Global

Para Menteri Bertemu, Perjalanan Antar Negara ASEAN Semakin Mudah

JUMAT, 13 OKTOBER 2017 | 14:15 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Menteri Transportasi dari negara-negara anggota ASEAN menandatangani sejumlah inisiatif untuk memperkuat transportasi antar negara anggota dalam pertemuan di Singapura hari ini (Jumat, 13/10).

Termasuk dalam inisiatif tersebut adalah rencana melakukan liberalisasi layanan udara di kawasan ASEAN dan meningkatkan keamanan dan efisiensi perjalanan udara serta untuk memfasilitasi pergerakan lintas batas yang mulus dari penumpang,

Dikabarkan Channel News Asia, para menteri transportasi menandatangani sebuah kesepakatan untuk mempermudah perjalanan darat dan udara antar negara-negara ASEAN.


Berdasarkan Persetujuan Kerangka Kerja ASEAN untuk Fasilitasi Transportasi Lintas Lintas Penumpang oleh Kendaraan Jalan, masing-masing negara anggota akan mengizinkan kuota dari 500 bus yang tidak dijadwalkan atau bus yang tidak memiliki jadwal tetap seperti bus wisata untuk masuk atau transit di negara anggota.

Para menteri transportasi juga mengadopsi Rencana Induk Pengelolaan Lalu Lintas Udara ASEAN untuk memfasilitasi arus pesawat terbang di seluruh wilayah, sehingga diharapkan dapat mengakibatkan penundaan yang lebih sedikit, mengurangi biaya operasional untuk penerbangan dan manajemen lalu lintas udara yang lebih baik.

Kesepakatan yang dijalin hari ini bertujuan untuk memungkinkan para operator ASEAN memperluas jaringan mereka tanpa harus menggunakan pesawat mereka sendiri, dan juga untuk memungkinkan pergerakan orang dan barang yang lebih besar antar negara.

Para menteri juga menandatangani sebuah inisiatif mengenai lisensi awak pesawat, untuk mempermudah lisensi awak pesawat yang dikeluarkan oleh satu negara anggota yang akan divalidasi atau dikonversi ke yang lain.

Para menteri transportasi ASEAN dan China juga menyambut baik penandatanganan Memorandum of Understanding untuk memperkuat kerja sama keselamatan dan investigasi penerbangan di antara negara-negara anggota ASEAN dan China.

Kesepakatan tersebut akan memungkinkan pembagian fasilitas investigasi, peralatan dan keahlian antara semua pihak untuk mendukung investigasi kecelakaan pesawat terbang. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya