Berita

Bendera Kolombia/Net

Global

Kesepakatan Damai Pemerintah Kolombia-FARC Tak Bisa Diubah Selama 12 Tahun

KAMIS, 12 OKTOBER 2017 | 13:05 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Mahkamah Konstitusi Kolombia memastikan bahwa kesepakatan damai yang dibentuk oleh pemerintah dengan kelompok pemberontak FARC tahun 2016 lalu tidak dapat diubah selama 12 tahun mendatang. Keputusan itu dibuat pada Rabu (11/10) waktu setempat. Dengan demikian, tiga pemerintahan Kolombia berikutnya harus mematuhi kesepakatan damai bersejarah tersebut.

Keputusan itu diambiloleh Mahkamah Konstitusi Kolombia demi melindungi kesepakatan dari perubahan potensial jika oposisi memenangkan pemilu tahun depan. Kubu oposisi diketahui kerap menentang langkah pemerintahan Presiden Juan Manuel Santos yang mendorong kesepakatan tersebut.

Kesepakatan dengan pemberontak Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) berakhir setelah lebih dari 52 tahun perang. Selama masa itu pula, lebih dari 220.000 orang telah meninggal dan jutaan orang telah mengungsi selama konflik negara Andes antara pemerintah, gerilyawan sayap kiri dan paramiliter sayap kanan.


"Lembaga dan otoritas negara memiliki kewajiban untuk mematuhi apa yang ditetapkan dalam kesepakatan akhir dengan itikad baik, sampai akhir dari tiga periode kepresidenan yang lengkap setelah penandatanganan," demikian bunyi reformasi konstitusi yang disetujui oleh pengadilan seperti dimuat Reuters.

Pemerintah menyambut baik keputusan tersebut. Komisaris perdamaian Rodrigo Rivera mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa keputusan tersebut harus mengurangi kekhawatiran di antara mantan kombatan FARC, sekitar 7.000 di antaranya telah melakukan demobilisasi dan membentuk sebuah partai politik.

Sementara itu, politisi oposisi sayap kanan, termasuk mantan presiden menjadi senator Alvaro Uribe, mengatakan bahwa keputusan tersebut mengabaikan kemauan orang Kolombia, yang secara sempit menolak kesepakatan tersebut dalam sebuah referendum yang diadakan lebih dari setahun yang lalu, sebelum dimodifikasi dan melewati Kongres. [mel]

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya