Berita

Foto: Net

Kesehatan

Cuma Rajin Pencitraan, Kinerja BPJS Kesehatan Dinilai Gagal Total

SELASA, 10 OKTOBER 2017 | 05:10 WIB | LAPORAN:

Kinerja Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) telah gagal total. Semua jajaran Direksi dan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan harus diaudit, serta diberikan sanksi tegas.

Begitu dikatakan Koordinator Nasional Masyarakat Peduli Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (Kornas MP BPJS) Hery Susanto dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Selasa (10/10).
 
"Kami meminta agar dilakukan evaluasi total terhadap kinerja jajaran direksi dan dewas BPJS kesehatan. Juga, perlu ada punishment dengan mengganti jajaran elitenya,” tegasnya.


Hery juga mendesak agar segera dilakukan Revisi Undang Undang BPJS tentang pengelolaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Dan revisi target universal health coverage atau UHC, hingga perbaikan kualitas dan kuantitas fasilitas kesehatan dan rumah sakit,” ujarnya.

Selama ini, lanjut Hery, BPJS Kesehatan hanya pintar melakukan program pencitraan dan menutup-nutupi kegagalan yang sudah kian menumpuk.

"Jangan hanya pintar pencitraan guna capaian target UHC, namun tidak becus dalam pelayanan kesehatan public,” ujarnya.

Hery menegaskan, jika tdak dilakukan evaluasi dan pemberian sanksi yang tegas kepada jajaran Direksi dan Dewas BPJS Kesehatan, maka pihaknya akan melakukan pembangkangan.

"Jika tidak dilakukan segera, maka kami serukan pembangkangan sipil guna menolak program JKN yang salah urus itu,” ujar Hery.

Dia menegaskan, selama ini Direksi dan Dewas BPJS Kesehatan tidak menjalankan peran dan fungsi secara baik dan tidak sesuai spirit program JKN.

"Selama ini, hanya orientasi target kuantitas kepesertaan, namun pelayanan buruk. Jajaran direksi tidak kreatif dan tidak inovatif, selalu defisit dan meminta bantuan pemerintah hingga upaya menaikkan iuran BPJS,” ujarnya.

Hery melanjutkan, dengan jumlah peserta 180 juta-an saja pengelolaan dan pelyanan BPJS Kesehatan sudah karut marut, apalagi jika sudah capai UHC dengan kepesertaan seluruh rakyat Indonesia.

"Fasilitas kamar Rumah Sakit dari semua kelas BPJS tidak akan pernah kosong dan selalu penuh, kecuali yang diambil menjadi pasien umum atau kelas VIP yang tidak ditanggung BPJS. Begitu juga ketersediaan obat dan lainnya menjadi mata rantai problem yang tidak pernah putus,” beber Hery.

Belum lagi, lanjut dia, tunggakan iuran di level warga, pemberi kerja, Pemda juga sukar diraih. Selama ini, kata dia, tidak ada langkah efektif dari petugas BPJS Kesehatan untuk menangani problem tunggakan itu.

"Meski ada kader JKN dari warga yang mereka rekrut pun tak jalan karena warga kader JKN tidak mau menjadi bumper BPJS.  Masyarakat protes sebab pelayanan buruk. Ditambah lagi, saat ini daya beli masyarakat rendah, jangankan untuk JKN untuk kebutuhan harian mereka saja susah. Dengan besaran iuran yang berlaku sekarang banyak yang menunggak, apalagi jika iuran BPJS Kesehatan naik,” ujarnya.

Hery menekankan, meski ada subsidi PBI, namun hingga kini pun tidak jelas distribusinya. "Banyak yang tidak tepat sasaran. Ini beresiko buat kesenjangan warga saja,” ujarnya.

Karena itu, evaluasi total dan pemberian sanksi yang tegas kepada jajaran direksi dan dewas BPJS Kesehatan tidak bisa ditunda-tunda lagi.

"Sekali lagi harus diberikan sanksi tegas. Kalau tidak, ya kita akan melakukan pembangkangan,” tandasnya. [sam]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya