Berita

Ashraf Ghani/Net

Dunia

Presiden Afghanistan Pekerjaan Terburuk Di Bumi

KAMIS, 05 OKTOBER 2017 | 16:31 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Menjadi Presiden Afghanistan merupakan pekerjaan paling buruk di bumi.

Begitu penuturan dari Ashraf Ghani yang saat ini menjabat sebagai Presiden Afghanistan. Hal itu ia katakan dalam sebuah wawancara ekslusif dengan wartawan di Istana di Kabul pekan ini, seperti dimuat BBC.

"Ini pekerjaan terburuk di Bumi," katanya.


Ia merujuk pada upaya Afghanistan yang telah berperang selama hampir 16 tahun melawan Taliban dan kelompok militan lainnya. Afghanistan kini masih dibantu dengan kekuatan NATO untuk memperkuat pertahanan diri.

Dalam kesempatan tersebut ia mengatakan bahwa saat ini negaranya masih membutuhkan NATO. Sekitar 14.000 tentara NATO tetap berada di negara tersebut untuk melatih, memberi saran dan membantu pasukan Afghanistan. Tujuannya adalah untuk memperkuat mereka sehingga mereka bisa berperang melawan Taliban

Namun demikian, ia menegaskan bahwa pasukan NATO akan bisa dikeluarkan dalam waktu empat tahun.

"Dalam waktu empat tahun, kami pikir pasukan keamanan kami dapat melakukan hal konstitusional, yang merupakan klaim monopoli kekuasaan yang sah," jelasnya.

Ia memperkirakan bahwa beberapa tentara asing akan tetap berada di Afghanistan setelah periode tersebut sebagai bagian dari perang global melawan terorisme.

Menurutnya, Taliban memiliki dua tujuan strategis, yakni untuk menggulingkan pemerintah atau menciptakan dua "geografi politik".

"Taliban telah gagal total dalam kedua tujuan ini," tegas Ghani. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya