Berita

Logo Bamusi/Net

Politik

PP Bamusi: Perdebatan Soal PKI Harus Bermartabat Dan Akademis

KAMIS, 21 SEPTEMBER 2017 | 08:53 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Pemutaran ulang film G30S/PKI telah digunakan oleh sebagian kelompok dan politisi untuk memaksakan kebenaran isi film tersebut sebagai sebuah kebenaran sejarah.

Begitu kata Ketua Pimpinan Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP Bamusi) Mahmuddin Muslim menanggapi pemutaran ulang film karya Arifin C. Noer.

"Mestinya putar dan tonton saja film G30S/PKI tersebut, tetapi tidak boleh memaksa orang lain untuk turut menontonnya, apalagi memaksakan kebenaran versi film tersebut kepada orang lain," ujarnya dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Kamis (21/9).


Mahmuddin menjelaskan bahwa peristiwa yang terjadi di tahun 1965 tersebut tidak bisa dipungkiri merupakan bagian dari perjalanan bangsa ini. Sebagai bagian dari sejarah, maka terbuka ruang untuk berbagai tafsir terhadap peristiwa tersebut.

"Penulisan ulang sejarah itu, tentu tidak akan lepas dari subjektivitas penulisnya," sambung Mahmuddin.

Sehingga, lanjutnya, jika ada yang tidak setuju atau merasa penulisan sejarah yang baru itu kurang lengkap, maka pihak-pihak tersebut perlu menulis sejarah ulang versi mereka. Tentu penulisan itu juga tidak bisa lepas dari subjektivitas penulisnya.

"Dengan begitu, perdebatan tentang peristiwa G30S/PKI menjadi perdebatan yang bermartabat dan akademis. Bukan dijadikan ajang untuk menyudutkan lawan-lawan politik apalagi menuduh atau memberikan stigma komunisme pada kelompok tertentu tanpa landasan data yang valid," terangnya.

Menurutnya, perdebatan yang terjadi saat ini terlalu mengguras energi, simpang siur, cenderung saling serang, hoax, dan masing-masing pihak merasa paling benar. Bahkan sering kali memunculkan tindakan-tindakan anarkis dan persekusi.

"Cara-cara ini membuat situasi, seolah-olah para pihak yang berdebat kembali hidup di tahun 1965," tutur Mahmudin.

Bahkan kini isu-isu komunisme sudah dijadikan oleh lawan politik pemerintah untuk menyerang pemerintahan Jokowi dan partai pendukungnya. Cara-cara ini tentu saja tidak sehat untuk konsolidasi demokrasi Indonesia.

"Padahal mestinya semua tindakan politik yang dilakukan dalam demokrasi mempunyai tanggung jawab kepada publik sebagai bentuk pendidikan politik dan civic education," pungkasnya. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya