Berita

Politik

Pilkada 2018, Pijakan Strategis Menangkan Pilpres 2019

RABU, 20 SEPTEMBER 2017 | 09:19 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pilkada Serentak 2018 merupakan pijakan strategis bagi partai politik dalam memenangkan Pilpres 2019.

Begitu kata pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Selasa (20/9).

Dia menjelaskan bahwa partai politik saat ini sudah mendapat data dan menginventarisasi kekuatan dengan melihat berapa titik daerah yang mereka rebut dalam dua pilkada sebelumnya, yaitu Pilkada 2015 dan 2017. Sehingga dalam rangka memenangkan Pilpres 2019, perhitungan daerah yang dikuasai lebih pada jumlah kabupaten dan kota madya daripada jumlah provinsi.


"Sebab, yang bersentuhan langsung dengan rakyat adalah bupati dan walikota untuk menarik simpati rakyat dalam rangka memenangkan Pilpres 2019," jelasnya.

Sebagai partai atau koalisi politik yang ingin berkuasa periode 2019 -2024, para partai boleh jadi sudah melakukan kalkulasi kuantitaif jumlah daerah yang dikuasai oleh partai lain, baik yang berada di kelompok partai pendukung pemerintah maupun kelompok partai yang memerankan oposisi atau di luar pemerintah.

"Perhitungan tersebut kemudian menjadi dasar bagi para partai untuk strategi memenangkan sejumlah daerah tingkat dua pada Pilkada 2018 mendatang," jelasnya.

Jumlah dari dua kelompok partai memang masih cair menjelang dan pada saat Pilpres 2019 nanti. Namun begitu, Emrus menilai kelompok itu tetap akan mengerucut pada dua kelompok koalisi partai, yang masing-masing membawa pasangan pada Pilpres 2019.

"Untuk lebih percaya diri bertarung pada Pilpres 2019, tentu para partai atau koalisi partai akan berusaha keras memenangkan Pilkada 2018 sebanyak mungkin. Sebab jumlah daerah yang dimenangkan para partai dan koalisinya pada Pilkada 2015, 2017 dan 2018 mendatang merupakan peta kekuatan dukungan suara rakyat di Pilpres 2019," jabarnya.

Karena itu, sambungnya, Pilkada 2018 menjadi sangat penting untuk menduga dan menyusun strategi komunikasi politik memenangkan Pilpres 2019 dari dua kekuatan kelompok koalisi partai politik, yaitu pendukung pemerintah versus oposisi pemerintah.

"Oleh sebab itu, persaingan politik pada Pilkada 2018, menurut saya akan semakin ketat," tutupnya. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya