Berita

Aung San Suu Kyi/Net

Dunia

Myanmar Baru Berdemokrasi, Suu Kyi Minta Masyarakat Internasional Bersabar

RABU, 20 SEPTEMBER 2017 | 06:58 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi meminta masyarakat internasional bersabar dan memahami langkah negaranya dalam menyelesaikan beragam konflik, utamanya mengenai masalah etnis rohingya.

Suu Kyi menjelaskan bahwa Myanmar adalah negara yang baru saja belajar berdemokrasi setelah lebih dari separuh abad dikuasai junta militer. Sehingga butuh waktu cukup untuk proses transisi.

"Transisi bagi kami adalah transisi menuju demokrasi setelah lebih dari separuh abad berada dalam kepemimpinan otoriter. Kami sedang berupaya membentuk bangsa, dengan demokrasi yang belum sempurna," ujarnya dalam sebuah pidato di Naypyidaw pada Senin (18/9) malam.


Ia juga menjabarkan bahwa Myanmar adalah negara yang rumit. Kerumitan semakin bertambah karena semua pihak meminta negara untuk segera semua tantangan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Padahal, partai yang dipimpin Suu Kyi masih seumur jagung memimpin Myanmar.

"Saya ingin mengingatkan kembali bahwa pemerintahan kami bahkan belum mencapai 18 bulan, dan ini adalah waktu yang sangat singkat untuk memenuhi seluruh harapan," jelasnya seperti dikutip AP.

Sementara menanggapi masalah eksodus 400 ribu warga rohingya ke perbatasan Bangladesh, peraih nobel perdamaian itu mengaku sedang menyelidiki penyebabnya. Pasalnya, di Rakhine State masih ada warga rohingya yang tidak ikut melarikan diri. Sehingga butuh penyelidikan khusus untuk mengetahui akar masalah.

"Kami ingin bicara dengan mereka yang melarikan diri dan mereka yang tetap tinggal. Saya kira hanya sedikit yang tahu bahwa sebagian besar warga Muslim di Rakhine tidak ikut melarikan diri. Mereka masih ada di sana dan kami ingin tahu mengapa," pungkasnya. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya