Berita

Miryam/Net

Hukum

Ternyata Tidak Ada Tekanan Signifikan Kepada Miryam

SENIN, 18 SEPTEMBER 2017 | 16:48 WIB | LAPORAN:

Jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi menghadirkan ahli psikologi forensik Reni Kusumawardhani dalam sidang lanjutan perkara pemberian kesaksian palsu dengan terdakwa Miryam S. Haryani.

Kehadiran Reni dalam sidang untuk mengetahui kebenaran adanya tekanan yang dilakukan penyidik KPK saat melakukan pemeriksaan terhadap Miryam sebagai saksi dalam kasus korupsi pengadaan KTP-el beberapa waktu lalu. Tekanan penyidik KPK yang kemudian menjadi alasan Miryam untuk mencabut seluruh keterangannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP).

Menurut Reni, hasil observasi terhadap empat rekaman video pemeriksaan di Gedung KPK tidak terlihat adanya tekanan yang dilakukan penyidik kepada MIryam. Bahkan, penyidik KPK memberikan perhatian penuh kepada Miryam dengan mendengarkan dan menyimak setiap kata-kata yang disampaikannya.


"Hasilnya tidak dijumpai adanya tekanan yang signifikan dari penyidik selama proses pemeriksaan," ungkap Reni saat menjelaskan hasil penelitiannya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (18/9).

KPK menetapkan Miryam sebagai tersangka keterangan palsu pada 5 April 2017. Proses penyidikan terhadap politisi Partai Hanura itu dilakukan selama dua bulan lebih. Pada 21 Juni lalu, KPK menetapkan berkas tersangka Miryam telah rampung dan siap maju ke persidangan.

Miryam memberikan keterangan palsu saat dirinya dihadirkan dalam sidang korupsi pengadaan KTP-el dengan terdakwa mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri Irman dan Sugiharto. Dalam sidang, Miryam kemudian mencabut semua BAP dengan alasan mendapat tekanan oleh penyidik KPK.

Atas perbuatannya, Miryam dijerat pasal 22 junto pasal 35 UU 31/1999 sebagaimana diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. [wah]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya