Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (44)

Mendalami Ketuhanan YME: Perspektif Agama Dan Kepercayaan Lokal (2)

KAMIS, 14 SEPTEMBER 2017 | 11:30 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

DATA-Data menunjukkan, masyarakat zaman dahulu kala di wilayah kepulauan Nusantara sudah menge­nal konsep Ketuhanan Yang Maha Esa. Hanya saja for­mulanya masih sangat ab­strak. Kalangan antropolog menunjukkan adanya sistem religi dan aktivitas budaya dan peradaban luhur. Dari asumsi ini sulit diter­ima anggapan orang yang mengatakan agama Hindu dan Islam yang membawa sistem religi dan seni-budaya di kepulauan Nusantara.

Kedua agama ini sering digambarkan seolah-olah memasuki ruang hampa budaya sehingga mereka dianggap mengisi kekosongan nilai-nilai moral-spiritual. Justru sebaliknya, para raja lokal serta merta memeluk agama Hindu-Budha ke­mudian Islam kerena dianggapnya bagian dari kelanjutan dari sistem religi yang dipertahankan secara turun temurun. Ini juga menunjukkan, tol­eransi beragama dan berkepercayaan di Indone­sia tumbuh semenjak dahulu kala.

Ptolemaus, sang penemu banyak negeri, menggambarkan adanya kepulauan yang disebut Kher­sonesos (Yunani: Pulau emas) dan sejarah Cina yang disebutnya dengan Ye-po-ti yang di antaranya diperkenalkan dengan Jabadiou/Jawa. Di zaman ini sudah dikenal wilayah Jawadwipa, Swarnadwi­pa, Bugis, dan lain-lain. Masyarakat yang menghu­ni kepulauan ini sudah mengenal sistem religi dan mempercayai adanya kekuatan gaib dan sistem penyembahan terhadap kekuatan gaib tersebut. Ini membuktikan bahwa kemudahan masyarakat bangsa Indonesia memeluk agama yang baru kar­ena mereka sudah memiliki pengalaman dan tradi­si batin. Jika sistem religi yang baru masuk sejalan dengan sistem religi mereka maka tidak perlu mer­eka persulit, apalagi dimusuihi. Sebagai konsekw­ensi masyarakat yang berkultur maritim, yang ciri khasnya terbuka, maka kepercayaan diri mereka sangat tinggi untuk mengakomodir nilai-nilai baru yang relevan dengan tradisinya.


Analisis sistem budaya juga menggambarkan masa ini sebagai masa akulturasi yang amat pent­ing, dimana budaya dan sistem religi luar bisa be­radaptasi dalam konteks budaya kepulauan Nu­santara. Di dalamnya ada pengaruh Hindu, Arab (Islam), Cina, Portugis, dan Inggris. Sistem budaya, sistem religi, sistem ekonomi, dan sistem teknologi sudah banyak ditemukan di pusat-pusat kerajaan Nusantara sejak dahulu kala. Kesemuanya itu ada­lah wajar bagi warga bangsa Nusantara.

Agama Islam sendiri tidak mempersoalkan ke­hadiran agama dan kepercayaan dalam suatu masyarakat. Justru Islam menegaskan seba­gaimana disebutkan dalam hadis: "Sesungguh­nya aku diutus untuk menyempurnakan (li utam­mim) akhlak mulia". Islam memberikan apresiasi agama dan peradaban luhur masa lampau kar­ena itu artinya meringankan beban Islam seba­gai agama yang menganjurkan religiusitas dan peradaban luhur. Islam merelakan diri "dinusan­tarakan" sebagai konsekwensi pengislaman Nu­santara. Dalam tradisi NU dikenal sebuah istilah: Al-muhafadhah 'ala al-qadin al-shalih wa al-akh­dz bi al-jadid al-ashlah' (melestarikaan nilai-nilai luhur yang masih relevan dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik). Atas dasar logika ini warga Nahdliyin seringkali tampil sebagai tokoh pelindung kelompok minoritas. Kita masih ingat Gus Dur dan sejumlah tokoh NU lainnya, sering­kali mengeluarkan istilah yang boleh jadi diang­gap sangat kontroversi bagi kelompok puritan (kelompok yang selalu mempertahankan orisinal­itas dan kemurnian ajaran Islam).

Konsep Ketuhanan Yang Maha Esa bagi kel­ompok penganut agama local dan aliran keper­cayaan sesungguhnya sudah tidak ada masalah lagi. Masalah akan muncul jika muncul keinginan untuk memformulasikan konsep Ketuhanan YME ke dalam konteks yang lebih khusus, yakni kelom­pok yang akan menyeret pengertian Ketuhanan YME ke dalam pemahaman yang lebih sempit, sesuai dengan formulasi keyakinan agama yang dianutnya. 

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Elite NU Harus Setop Jadikan Warga Nahdliyin Objek Politik Praktis

Rabu, 02 September 2026 | 01:48

Gus Alex Pernah Setor Pansus Haji DPR Lewat Teman Nusron Wahid, Segini Besarnya

Rabu, 02 September 2026 | 01:21

Raja Juli: Presiden Prabowo Pemimpin Tegas dalam Atasi Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 01:02

Setoran ke Ditjen Imigrasi Didalami KPK Lewat Pemeriksaan Staf KJRI Kuching

Rabu, 02 September 2026 | 00:47

Skema BLU Berisiko Tambah Beban Birokrasi Tata Kelola Sektor Energi

Rabu, 02 September 2026 | 00:23

Harga Pertamax Green 95 Disesuaikan dan Mulai Berlaku 2 September 2026

Rabu, 02 September 2026 | 00:01

Menko Polkam Ajak Seluruh Sektor Serius Tangkal DFK di Medsos

Selasa, 01 September 2026 | 23:40

BP Batam Pilih Tak Bergantung dengan APBN

Selasa, 01 September 2026 | 23:18

Lobi Fuad Hasan Masyhur Berujung Persetujuan Jokowi soal Tambahan Kuota Haji 2022

Selasa, 01 September 2026 | 23:15

Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Sandiaga Uno Dinilai Layak Masuk Kabinet

Selasa, 01 September 2026 | 22:29

Selengkapnya