Berita

Ilustrasi/RM

Politik

Terkuak, Penyebab Suu Kyi Jadi Macan Ompong

SENIN, 11 SEPTEMBER 2017 | 16:46 WIB | LAPORAN:

Banyak kalangan di Tanah Air yang mempertanyakan sikap diam pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi dalam mengatasi krisis Rohingya.  

Saking kesalnya atas sikapnya tersebut muncul desakan agar Nobel Perdamaian yang diberikan ke Suu Kyi dicabut.

Mantan Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq menguak penyebab sikap diam Aung San Suu Kyi. Menurut dia, meski Suu Kyi menang mutlak di Myanmar, tapi di Rakhine State partainya keok.


"Di wilayah itu partai De Arakan National Party menang. De Arakan National Party ini adalah partai yang beraliran etnosentris yang mengedepankan betul supermasi Burnis asli. Dan original of burnist menurut ideologi De Arakan National Party adalah yang pertama, orang yang lahir dari orang tua Burma. Yang kedua beragama Buddhist," kata Mahfudz Siddiq Dalam diskusi bertema "Rohingya Update"Kaukus HAM DPR, di Media Center DPR, Senin (11/9).

Pembicara lainnya adalah anggota Komisi XI Fraksi PDIP yang juga anggota ASEAN Parliamentarians for Human Right (APHR), Eva Sundari dan Henky Kurniadi juga Fraksi PDIP serta Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) PBB untuk menangani kasus Rohingya.

Namun Marzuki hadir hanya sebentar saja dia buru-buru berangkat ke Rohingya. Politisi PKS itu melanjutkan, kalau partai  tersebut  berkolaborasi sangat intens dengan militer dan berkolaborasi intens dengan sejumlah kelompok pendeta Buddhist yang radikal.

"Di Rakhine State, paham etnosentrisnya sangat kuat, dan tidak ingin adanya penyelesaian tuntas terkait krisis  Rohingya, termasuk  tidak setuju kalau etnis  Rohingya, diakui sebagai nasional etnik grupnya danmendapatkan kewaranegaraan."

"Kalau kita lihat pada skala domestik politiknya di Rakhine State  atau pemerintah pusatnya termasuk Suu Kyi sendiri dia tidak memiliki kontrol penuh terhadap wilayah ini," sambungnya.

Menurut Mahfudz, secara politik muncul pertanyaan seberapa besar posisi politik Suu Kyi untuk mengimplementasikan rekomendasi dari adversory komisinya yang dipimpin Kofi Anan.

Dengan terjadinya kasus yang kemarin dan berlarut sampai hari ini. Maka itu menunjukan satu fakta tambahan, bahwa Suu Kyi tidak mampu mengontrol kekuatan militer dan politik domestik di Arakan State. Dia juga mulai terbawa dengan permainan politik dari kekuatan militer dan kekuatan politik lokal.

"Saya pikir dalam konteks ini kita punya konsen yang sama, bagaimana semua pihak termasuk berbagai negara dan lembaga multiteral sekarang ini harus bekerja bahu membahu mendorong dan support Suu Kyi untuk mengimplementasikannya," jelas Mahfudz.

Terlepas dari kritik dan kelemahan Suu Kyi,  tambah dia, Indonesia punya obligasi membantu dan mendorong Suu Kyi untuk bisa menjalankan transisi dan juga menjalankan rekomendasi tersebut. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya