Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Jokowi Anulir Kehendak Warga Jakarta Dengan Terbitkan HGB Pulau D

SENIN, 11 SEPTEMBER 2017 | 11:56 WIB | LAPORAN:

Penerbitan sertifikat HPL dan Hak Guna Bangunan (HGB) Pulau C dan D kemudian akan disusulnya pencabutan sanksi untuk Pulau G Reklamasi Teluk Jakarta, dipandang sebagai langkah yang tidak patut secara etik.

Terlebih kebijakan pemerintahan Jokowi itu bertentangan dengan kehendak langsung rakyat Jakarta.

"Terdapat hal yang ganjil di mata masyarakat yang perlu dijawab oleh pemerintah, pertama soal terbitnya HPL kemudian HGB Pulau C dan D karena sangat cepat prosesnya. Kedua, disusulnya rencana akan mencabut sanksi moratorium Pulau G yang pada prosesnya terdapat unsur korupsi yang ditangani KPK," kata
Direktur Eksekutif Nurjaman Center For Indonesia Democracy (NCID) Jajat Nurjaman dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Senin (11/9).

Direktur Eksekutif Nurjaman Center For Indonesia Democracy (NCID) Jajat Nurjaman dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Senin (11/9).

Bukan hanya itu, lanjut Jajat, fakta di lapangan, proyek tetap berjalan saat moratorium belum dicabut. Lebih mengherankan langkah tersebut dilakukan ketika gubernur lama, Djarot Saiful Hidayat, masih memimpin.

"Padahal bulan Oktober, gubernur baru Jakarta akan dilantik," tutur Jajat

Jajat menjelaskan, seharusnya segala proses penerbitan bahkan kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat perlu mempertimbangkan beberapa aspek. Pertama, aspirasi masyarakat tentunya yang sebagian besar menolak. Kedua, aspek lingkungan amdal yang jelas belum ada upaya perbaikan. Ketiga, aspek hukum di mana kasus reklamasi masih berjalan prosesnya di KPK. Keempat, aspek ketatanegaraan yang seharusnya kebijakan pemerintah pusat tersebut dilakukan di saat gubernur yang baru memimpin. Sebab jika kebijakan ini dipaksakan jelas akan membebani proyek gubernur baru Jakarta.

"Tentunya reklamasi ini harus bermanfaat untuk Jakarta bukan hanya bicara keuntungan materi semata yang dijanjikan pengembang kepada DKI Jakarta dan juga pemerintah pusat, akan tetapi koridor pembangunan Jakarta harus bertumpu pada layak tidaknya dan manfaat tidaknya Reklamasi tersebut untuk warga Jakarta," urainya.

Menurutnya pula, fakta kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai pemimpin baru Jakarta yang mengusung tolak reklamasi seharusnya menjadi data dan fakta yang valid untuk pemerintah Jokowi mengeluarkan segala bentuk kebijakannya.

"Bukan memberikan beban kerja kepada Gubernur baru dengan banyaknya penolakan dari warga, jika seperti ini jelas pemerintah Jokowi seolah tidak mau menyukseskan kepemimpinan pilihan warga Jakarta," tutup Jajat.[wid]


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya