Berita

Rita Widyasari/Net

Politik

Dua Tokoh Ulama Dukung Rita Widyasari Jadi Gubernur Kaltim

MINGGU, 10 SEPTEMBER 2017 | 02:45 WIB | LAPORAN:

Menurut berbagai survey yang telah dirilis sejumlah lembaga, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari diprediksi akan memenangi pertarungan di ajang Pilkada 2018 memperebutkan kursi panas Gubernur Kalimantan Timur.

Berbagai dukungan baik dari sejumlah ormas, lembaga, tokoh politik, tokoh agama, dan masyarakat luas, dari waktu ke waktu terus dituai oleh putri Syaukani Hasan Rais ini untuk dapat menjadi perempuan pertama Gubernur Kalimantan Timur periode 2018-2023.

Dukungan dari tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan tokoh Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PBNU), beberapa waktu lalu pun juga telah didapat Rita Widyasari yang telah dua periode memimpin Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dan telah berhasil membawa perubahan dalam banyak hal.


"Dulu waktu mau maju menjadi Bupati Kutai Kartanegara, aku meminta dan banyak mendapatkan masukan tentang kepemimpinan wanita dalam perspektif Islam dari Bapak almarhum Zainuddin MZ," ujar Rita kepada redaksi, Sabtu (9/9).

Kini, lanjut Rita, untuk maju sebagai Gubernur Kalimantan Timur dirinya butuh nasehat dari kedua ulama besar Indonesia yakni dari KH. Ma'ruf Amin dan KH. Said Aqil Siroj. Mereka kata Rita akan memberikan ceramah dan fatwa jika ada yang mempermasalahkan Rita maju menjadi Gubernur.

Mendengar Rita Widyasari mendapat dukungan dari kedua tokoh ulama tersebut, berbagai dukungan dari masyarakat di berbagai kota Kalimantan Timur terus mengalir seperti dari Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, Sengata, dan lainnya.

"Alhamdulillah, ayo perempuan maju terus pantang mundur, karena wanita adalah tiang negara, Al-mar’atu ‘imãdul-bilãd," ucap Niz Thepeol salah satu warga yang tinggal di Tenggarong.

Sementara itu salah satu warga yang tinggal di Sengata, Muhammad jaya mengatakan bahwa tidak ada yang salah jika pemimpin itu perempuan menjadi Gubernur.

"Maju terus Ketua. Kita sudah prediksi adanya opini gender akan dibangun. Hal ini sangat kontraproduktif dengan perkembangan demokrasi, HAM, yang menempatkan posisi kaum perempuan termarginalkan dalam politik," ujar Muhammad Jaya.[san]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya