Berita

Ichsan Firdaus/Net

Politik

Dewan Kritik Kebijakan HET

SABTU, 09 SEPTEMBER 2017 | 19:31 WIB | LAPORAN:

Kebijakan pemerintah terkait penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium dikritik kalangan dewan.

Anggota Komisi IV DPR, Ichsan Firdaus menjelaskan, dalam melaksanakan kebijakan tersebut, pemerintah masih menggunakan kepolisian melalui Satgas Pangan.

Menurut dia, penggunaan instrumen kepolisian dalam menindak pedagang beras yang melebihi HET membuat pedagang beras ketar ketir untuk menjual beras. Mestinya, sambung Ichsan, pemerintah melakukan operasi pasar tanpa harus mengatur HET untuk beras premium.


"Ada kegelisihan luar biasa di tingkat pedagang, pedagang jadi takut menjual kalau ada pendekatan keamanan. Semestinya kita harus pakai pendekatan ekonomi lewat mekanisme pasar seperti suplai dan demand," jelas di Jakarta, Sabtu (9/9).

Ichsan menilai, pemerintah juga harus hati-hati dalam menetapkan HET beras sebab penyerapan beras oleh Bulog mengalami penurunan. Sebagai contoh, dalam semester pertama 2017, penyerapan beras yang dilakukan Bulog mengalami penurunan hingga 500-600 ribu ton dibanding semester pertama pada 2016 lalu.

Hal ini lantaran adanya Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah kering panen (GKP) berkisar Rp3.700 per kilogram, sementara GKP rata-rata yang dijual petani ke pelaku usaha lain berkisar Rp5 ribu per kilogram.

Ichsan menjelaskan, penetapan HET beras justru membuat perum Bulog sulit dalam menyerap beras petani, karena harus bersaing dengan pelaku usaha lain yang membeli lebih mahal dibandingkan harga pemerintah. Apalagi, teknologi yang dimiliki Bulog masih kalah dari juragan beras.

"Mestinya pemerintah menetapakan HET hati-hati, Mendag dan Mentan mesti menghitung kemampuan pemerintah. Bulog ini kan punyanya beras medium, premium enggak punya," ujarnya. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya