Berita

Nasaruddin Umar/Net

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (35)

Mendalami Ketuhanan YME: The One In The Many (3)

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 | 09:16 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

PARA teolog (mutakallim­in) mempunyai pandangan yang berbeda tentang ke­mahaesaan Tuhan. Kel­ompok ini membayangkan Tuhan sebagai Dia dalam diri-Nya sendiri dan meng­enyampingkan alam dan se­gala makhluknya. Zat Tuhan tidak bisa diketahui karena di luar batas cakupan pemahaman kita (beyond our grasp). Hadis yang sering dikutip ialah: Tafakkaru fi khalq Allah, wala tafakkaru fi Dzat Allah (Pikirkanlah makhluk Allah dan jangan memikirkan Zat Allah). Zat Tuhan sama seka­li berbeda dengan makhluk-Nya, sebagaima­na ditegaskan dalam Al-Qur'an: Laisa kamits­lihi syai' (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya/Q.S. al-Syura/42:11). Kaitannya dengan sifat-sifat Tuhan sebagaimana tercan­tum dalam al-Asma' al-Husna', yang mempu­nyai keserupaan dengan sifat-sifat luhur yang dianjurkan untuk ditiru manusia: Takhallaqu bi akhlaq Allah (Berakhlaklah dengan akhlak Al­lah), bagi mutakallimin, tetap dalam kapasitas Tuhan yang sama sekali berbeda dan tak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

Hubungan antara Tuhan dan makhluk menu­rut kalangan sufi, lebih ditekankan kepada aspek keserupaan (tasybih), keterbandingan (compa­rability), dan keesaan mutlak (al-Wahdah/The One). Sedangkan kalangan mutakallimin/te­olog dan kalangan fuqaha, lebih menekankan aspek perbedaan (tanzih), ketakterbandingan (uncomparability), dan dualitas (The Oneness). Hubungan Khusus antara Tuhan dan manu­sia bagi kalangan sufi lebih ditekankan aspek kedekatan dan kebersamaan (immanency). Manusia merupakan lokus pengejawentahan (majla) dan lokus penampakan (madhhar) na­ma-nama dan sifat-Nya, yang sengaja dicipta­kan dari diri-Nya sendiri.

Berbeda dengan pandangan kalangan sufi yang menganggap makhluk Tuhan sebagai jau­har atau ‘aradh yang memanifestasikan sub­stansi Tuhan. Dengan demikian, wilayah per­batasan antara Khaliq dan makhluk menjadi tidak jelas. Satu sisi tidak bisa dipisahkan kar­ena satu substansi yang lainnya manifestasi, tetapi pada sisi lain diakui antara Sang Khaliq tidak identik dengan khaliqnya, meskipun tidak dapat dipisahkan. Karena itu, Ibnu 'Arabi tidak menggunakan istilah al-Khaliq dan al-makhluk tetapi al-Haq dan al-Khalq.


Para mutakallimin dan fuqaha lebih meneka­nkan aspek kejauhan dan keterpisahan (tran­cendency). Manusia seolah-olah berada jauh dengan Tuhan, apalagi dihubungkan dengan dosa awal manusia di surga yang membuat di­rinya terlempar jauh dari Tuhan. Manusia beru­saha untuk selalu mendekatkan diri (taqarrub) dengan berbagai persembahan kepada-Nya. Semakin taat dan patuh seorang hamba terh­adap Tuhan-Nya semakin dekat pula hamba itu, demikian pula sebaliknya.

Bagi kalangan sufi, Tuhan adalah Sang Hakekat Wujud (al-Haqiqah al-Wujud) yang bi­asa disebut al-Nufus al-Rahman yang "menga­lir" menjadi atau kepada setiap makhluk (khalq). Wujud makhluk berupa alam raya dengan segala macam isinya tidak lain adalah refleksi atau mad­hhar dari Sang Hakekat Wujud. Antara madhar dan Sang Hakekat Wujud merupakan satu kes­atuan (tauhid) yang tak terpisahkan. Meskipun demikian, tidak bisa dikatakan antara keduanya identik. Mungkin hubungan ini kurang tepat dis­ebut dualitas teapi polaritas, atau dua dimensi komplementer dari realitas tunggal.

Ketika para mutakallimin ditanya apakah wu­jud itu banyak atau satu maka mereka pasti menjawab wujud ini banyak. Sebaliknya jika di­tanya kalangan sufi mereka menjawab wujud ini hanya satu. Yang kelihatan banyak hanya bayangan (tajalli)-Nya. Para sufi memahami The many is the one dan the one is the mani, meskipun penjelasannya ada yang mengata­kan: The many in the one. Yang lainnya men­gatakan: The one in the many, dan yang ketiga mengatakan: The many in the one and the one in the many. Allahu a'lam.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya