Berita

Dunia

Deru Tembakan Membuat 17 Ribu Muslim Rohingya Mengungsi Ke Bangladesh

RABU, 30 AGUSTUS 2017 | 08:52 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Maungdaw lagi-lagi dalam keadaan genting. Jumat dinihari (25/8) lalu, bentrokan hebat terjadi antara militer Myanmar dan gerilyawan Rohingya di bagian utara Maungdaw, Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Peristiwa tersebut menewaskan setidaknya 77 muslim Rohingya dan 12 anggota militer Myanmar.

Angka kematian ini dirilis oleh Kantor Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi, Sabtu (26/8), seperti keterangan tertulis ACTNews, Rabu (30/8).

Sebelumnya dilaporkan bahwa sebanyak 150 gerilyawan Rohingya melakukan serangan di lebih dari 20 pos keamanan pada pukul 01.00 waktu setempat. Ketegangan berlanjut ketika militer Myanmar di lokasi memberikan serangan balasan. Letupan senjata dan suara ledakan bom bahkan terdengar hingga ke pemukiman warga di sekitar tempat kejadian.


"Sampai saat ini kami bahkan masih mendengar suara dentuman senjata. Kami tidak berani untuk keluar rumah," kata salah satu warga pada Jumat dini hari lalu, seperti dilansir dari kantor berita AFP.

Padahal, sehari sebelumnya, Mantan Sekjen PBB Kofi Annan baru saja menggulirkan hasil laporan penelitian timnya menyangkut solusi jangka panjang bagi Pemerintah Myanmar terkait konflik antaretnis di negara tersebut. "Myanmar harus mencabut pembatasan pergerakan dan kewarganegaraan untuk minoritas Muslim Rohingya yang terniaya. Ini jika mereka ingin menghindari konflik yang lebih jauh dan membawa perdamaian ke negara bagian Rakhine," papar Kofi Annan, Kamis (24/8).

Dalam sebulan terakhir ini, konflik memang kembali memanas di Negara Bagian Rakhine. Berbagai bentuk kekerasan terus menyasar Muslim Rohingya di beberapa desa yang tersebar di Maungdaw, Buthidaung dan Rathedaung. Kekerasan paling parah dialami oleh sejumlah warga Rohingya yang bermukim di Kota Rathedaung, sekitar 77 km dari Maungdaw.

Beberapa pekan belakangan, pasukan militer Myanmar dikerahkan secara masif di Rathedaung. Mereka menjaga pos-pos keamanan yang terus dibangun di sejumlah desa pelosok. Operasi keamanan secara sporadis dilakukan dengan dalih penahanan terhadap tersangka militan Rohingya. Namun demikian, operasi keamanan tersebut kerap kali menindas warga sipil yang tidak bersalah.

Beberapa desa di Rathedaung diblokade secara sepihak. Frekuensi aksi brutal terhadap warga Rohingya, seperti pemukulan, pembunuhan, pemerkosaan, hingga pembakaran rumah dan lahan pertanian kian meningkat. Dari tindak kekejaman ini, banyak dari warga Rohingya memilih melarikan diri dari kediaman mereka. Beberapa dari mereka bersembunyi di hutan-hutan sambil berharap adanya pertolongan. Namun demikian, ada pula sejumlah warga yang berusaha melawan. Perlawanan inilah yang diduga menyulut penyerangan di sejumlah pos keamanan di Rathedaung dan Maungdaw yang terjadi Jumat dinihari (25/8).

Konflik memanas, 17 ribu Muslim Rohingya bereksodus ke Bangladesh Pasca insiden Jumat kemarin, ketegangan nampak memuncak di sejumlah desa di tiga kota tersebut. Operasi keamanan yang dilancarkan terus menjadi-jadi. Media lokal menyebutkan, sekira 1000 rumah warga dibumihanguskan oleh militer Myanmar. Deru tembakan terdengar berkali-kali, menyasar siapa pun warga Rohingya yang dicurigai bagian dari militan. Akibatnya, jumlah warga yang tewas tertembak pun bertambah. Hingga kini, masih belum diketahui banyaknya korban jiwa tersebut.

Horor yang begitu mengancam memaksa lebih banyak lagi muslim Rohingya yang mencari suaka di Bangladesh. Sungai Naf kembali dipenuhi ribuan keluarga Rohingya yang sudah lelah akan teror dan kekerasan yang menimpa mereka. Sampai saat ini sekitar 17 ribu warga berbondong-bondong menyeberangi Sungai Naf menuju Bangladesh. Begitu laporan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Mitra Aksi Cepat Tanggap yang tinggal di Bangladesh membenarkan adanya eksodus warga Rohingya yang baru tiba di Bangladesh. "Di Arakan (Rakhine) sedang terjadi serangan penembakan kepada muslim Rohingya. Lumayan banyak korbannya. Ini yang membuat mereka semua mau tak mau mengungsi ke Bangladesh," ungkap Hasan, mitra ACT di Cox's Bazar, Bangladesh.

Menurutnya, pengungsi-pengungsi baru itu kemungkinan akan mencari suaka ke kamp pengungsian terdekat, yakni Kamp Kutupalong, Cox's Bazar. Kutupalong merupakan kamp pengungsian yang telah lama didirikan di Bangladesh. Kini, kamp tersebut menampung lebih kurang 15 ribu keluarga pengungsi Rohingya. Namun demikian, kondisi kamp pengungsian tersebut bisa dibilang paling memprihatinkan dibandingkan dengan kamp-kamp pengungsian yang lain.

"Kutupalong itu kan ada kamp resmi dan tidak resminya. Keadaan di kamp tidak resmi ini yang memprihatinkan. Selain Kutupalong, kemungkinan mereka akan ditampung di Kamp Balukhali, Cox's Bazar. Keberadaan kamp ini baru, tapi sudah ada sekitar 4000 keluarga di sana," jelas Hasan.

Sejak konflik menegang di Rakhine Oktober 2016 lalu, sudah lebih dari 80 ribu muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh. Jika saat ini krisis kemanusiaan di Rakhine terus berlanjut, bisa dipastikan puluhan ribu pengungsi baru akan memadati kamp-kamp pengungsian di Bangladesh. Dengan kondisi kamp yang serba terbatas, mereka akan berjuang bertahan. [rus]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Kopilot Malaysia Ngaku Diupah Rp220 Juta Selundupkan 26 Kg Ekstasi ke Jakarta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:20

Merdeka dalam Keserakahan: Ilusi Kemerdekaan di Usia 81 Tahun

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:02

Polda Metro Masih Selidiki Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pendeta

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:52

Loyalis Anies Dicecar KPK soal Jual Beli Properti di Kasus TPPU Rita Widyasari

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:25

Begini Respons Deddy Sitorus Usai Dilaporkan KWP ke MKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:02

Warga Tuban Terdampak Debu Pabrik, Semen Indonesia Mangkir Dipanggil DPRD

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:11

Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI Buka Jalan Akses Finansial Pulau Seram

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:02

Bea Cukai Ciduk Kopilot Kurir Narkoba, Duit Negara Rp207,9 Miliar Selamat

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:41

Transformasi Danantara Dongkrak Pendapatan Telkom hingga Tembus Rp75,9 Triliun

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:22

Polda Metro Jaya Cokok 728 Tersangka Curanmor

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:06

Selengkapnya