Berita

Politik

Mendikbud Jepang Dan Sekjen PDIP Sepakat Bentuk Karakter Manusia Sejak TK

SELASA, 29 AGUSTUS 2017 | 13:52 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

RMOL. Pembentukan karakter harus dilakukan sejak dini, bahkan dimulai dari tingkat pendidikan taman kanak-kanak.

Pandangan soal ini pun sama antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Jepang Yoshimasa Hayashi dengan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Dalam pertemuan di Tokyo ini, keduanya juga sepakat bahwa pelurusan sejarah kemerdekaan Indonesia menjadi salah satu agenda prioritas bangsa.

Pertemuan sarapan pagi yang berlangsung cukup hangat antara menteri senior Jepang  dengan Sekjen PDI Perjuangan yang didampingi Kepala Balitbang PDI Perjuangan Heri Akhmadi dan Bendahara Balitbang PDI Perjuangan yang juga anggota DPR Daniel Tobing, juga dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Jepang Arifin Tasrif. Hayashi yang pernah lima kali menjabat menteri di kabinet partai berkuasa Jepang LDP (Liberal Democratic Party) memilih menemui Hasto di hotel tempat delegasi PDI Perjuangan menginap, bukan di kementeriannya.


Membuka pembicaraan dengan Hayashi, Hasto Kristiyanto mengungkapkan kekagumannya terhadap budaya gotong royong dan etos kerja masyarakat Jepang. Hal itu nampak ketika terjadi tsunami besar di Fukushima.

"Sistem pendidikan Jepang sukses membangun kultur masyarakatnya. Kepada kami, Ibu Megawati Soekarnoputri banyak memberikan referensi  terkait etos kerja yang tinggi rakyat Jepang, termasuk kreativitas dan  nilai-nilai kejujuran di dalamnya," tutur Hasto (Selasa, 29/8).

Di Indonesia, budaya gotong royong merupakan elemen penting.  Bung Karno, sebagai pendiri bangsa  selalu mengingatkan  bahwa esensi dari Pancasila adalah semangat kegotongroyongan di antara sesama anak bangsa. Apalagi sekarang ini, tambah Hasto,  salah satu program kerja utama Presiden Jokowi adalah Revolusi Mental sebagai upaya membangun karakter manusia Indonesia.

Hayashi mengatakan, Jepang selalu fokus dengan pendidikan karakter sejak dini, terutama di tingkat pendidikan pertama hingga SMA. Namun sejak mulai bertambahnya pasangan suami istri yang bekerja, maka pemerintah Jepang fokus mendidik karakter sejak taman kanak-kanak.

"Kedisiplinan itu mata pelajaran resmi di Jepang. Kami latih anak-anak untuk bekerja dalam kelompok, termasuk membersihkan ruang kelas menjadi kewajiban rutin para murid. Kami juga sangat memperhatikan kualitas hidup anak-anak kami di sekolah. Bagaimana mereka bergaul di kelas dan luar kelas dan anak-anak harus belajar untuk hidup saling melayani," kata Hayashi.

Dalam dunia pekerjaan, Mendikbud Jepang ini juga mengatakan perusahaan-perusahaan di Jepang mencari calon karyawan yang tidak hanya punya nilai kelulusan yang tinggi, tapi yang juga memiliki karakter.

Menimpali ini, Hasto mengatakan aspek kebudayaan juga harus menjadi prioritas. Apalagi hubungan baik Indonesia-Jepang selama ini dilandasi oleh kentalnya budaya masing-masing negara dan penghormatan yang sangat kuat.

"Aspek kebudayaan ini yang akan dikembangkan PDI Perjuangan untuk menyambut peringatan 60 tahun hubungan kedua negara," ungkap Hasto.

Kepada  menteri senior LDP ini, Hasto menyampaikan tentang kesepakatan resmi antara PDI Perjuangan dan LDP yang akan dituangkan dalam MoU dalam waktu dekat. Salah satu program konkretnya adalah pendidikan kader kedua partai dan kerja sama   pertukaran program kerja antar kepala daerah asal PDI Perjuangan dengan pihak LDP.

Hayashi menyatakan sangat mendukung kerja sama LDP dengan PDI Perjuangan yang kesepakatan formalnya akan ditandatangani dalam menyambut 60 tahun hubungan Indonesia-Jepang.

Pada kesempatan tersebut, Heri juga mengungkapkan, saat ini sebuah universitas di Jepang sudah membuka pusat studi tentang Bung Karno. "Pusat Kajian Bung Karno ini sangat penting dan semakin memerkuat pemahaman sejarah yang benar terhadap Bapak Bangsa Indonesia," kata politisi senior PDI Perjuangan ini.

Hayashi mengatakan kementeriannya sangat mendukung kerjasama kedua Partai dan menyatakan kesediaannya untuk diundang sebagai pembicara tentang politik pendidikan yang berpijak pada pembangunan karakter bangsa. [ysa]

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Empat Penjudi Sabung Ayam Nekat Terjun ke Sungai Usai Digerebek Polisi

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Maung Bandung dan Bajul Ijo Berbagi Poin di GBT

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:28

Umat Jangan Tergesa-gesa Simpulkan Pernyataan Menag soal Zakat

Selasa, 03 Maret 2026 | 02:59

Try Sutrisno dan Gerakan Kembali ke UUD 1945 Asli

Selasa, 03 Maret 2026 | 02:34

Iran Geram Kepemilikan Senjata Nuklir Israel Tak Disoal Dunia Internasional

Selasa, 03 Maret 2026 | 02:08

Aparat Sita Amunisi hingga Uang Tunai Usai Rebut Markas DPO KKB

Selasa, 03 Maret 2026 | 01:47

DPR Tugasi Bahtra Banong Bereskan Kasus Penipuan Travel di Sultra

Selasa, 03 Maret 2026 | 01:19

Wamen Ossy: Pemanfaatan AI Tunjang Pengelolaan Data Pertanahan

Selasa, 03 Maret 2026 | 01:00

Klaim Trump Incar Ali Khamenei untuk Bantu Rakyat Iran Cuma Bualan

Selasa, 03 Maret 2026 | 00:43

Selengkapnya