Produsen mobil nasional mendukung pengembangan mobil listrik yang diwacanakan oleh pemerintah. Produsen meminta insentif bea masuk dan pajak barang mewah supaya harga mobil listrik bisa terjangkau.
General Manager MarketÂing Strategy PT. Nissan Motor Indonesia Budi Nur Mukmin mengatakan, bahwa insentif pajak bagi mobil-mobil listrik impor bisa menciptakan pasar dengan seketika. Pemerintah bisa meniru Malaysia dalam memberikan insentif pajak saat ingin membentuk pasar mobil hibrida dan mobil listrik.
"Malaysia itu, ketika memÂberikan keringanan pada mobil listrik dan hibrida, memberikan 0 persen bea masuk dan paÂjak barang mewah. Sehingga pasarnya cepat besar," ujar Budi di Jakarta, kemarin.
Dengan adanya insentif terseÂbut, harga mobil listrik jadi lebih kompetitif dengan mobil-mobil bermesin konvensional. KonÂsumen-konsumen Malaysia pun pada akhirnya relatif lebih gamÂpang mengalihkan pilihannya.
"Saya ingat sekali ketika itu di Malaysia mereka (para pabrikan) sampai kekurangan pasokan karena besarnya permintaan," lanjut dia.
Jika insentif pajak yang diberiÂkan pemerintah Indonesia sama dengan Malaysia, Nissan optiÂmis bisa merakit mobil hibrida dan listrik di Indonesia dalam lima tahun bisa terwujud. NisÂsan sendiri, sudah menyiapkan mobil listrik Note e-Power yang juga bakal diimpor.
Direktur Administrasi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, sebagai produsen mobil terbesar di Indonesia mengaku siap bertransÂformasi menuju mobil rendah emiÂsi. Namun, semua itu tergantung dukungan dari pemerintah.
"Untuk menciptakan mobil dengan economic fuel consumpÂtion seperti hybrid, electric vehiÂcle (EV) dan fuel cell (hidrogen) kita akan terus siap karena hal ini tidak bisa dibendung. Pasti akan terjadi," katanya.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki Pekerjaan Rumah (PR) yang cukup banyak agar dapat mencapai hal tersebut, terutama untuk mobil listrik. Apalagi, untuk mengembangkan mobil listrik tidak mudah.
"Infrastruktur harus dibaÂgusin lagi, pasarnya juga harus di-educate, pajaknya, regulasi, banyak lagi dan semua memang butuh tahapan," katanya.
Karena membutuhkan waktu dan tahapan tertentu, Toyota meÂnilai, saat ini, mobil hybrid lebih realistis. "Tidak bisa lompat langÂsung ke mobil listrik. Karena itu kita hadirkan hybrid. Lambat laun akan mengarah kesana," ujar Bob.
Untuk mencapai ke tahap moÂbil listrik, kata dia, tergantung kepada kesiapan pasar, edukasÂinya. Thailand sendiri membuÂtuhkan waktu 5 tahunan.
Bob berharap, rencana mobil listrik ini tidak seperti mobil gas yang tidak jalan karena tidak diduÂkung oleh infrastruktur. "Butuh kerja sama antara pemerintah dengan kita, produsennya. Tapi sejauh ini roadmap dari KementeÂrian Perindustrian sepahamdengan roadmap TMIIN," tukasnya.
Diserahkan Ke PasarMenteri Perindustrian AirÂlangga Hartarto mengatakan, tidak akan mengeluarkan aturan soal batasan harga jual produk mobil listrik. Hal ini mengingat biaya produksi yang dinilai akan lebih tinggi ketimbang memÂproduksi mobil berbahan bakar minyak (BBM).
Menurut dia, jika sudah dikemÂbangkan di dalam negeri, pemerÂintah akan menyerahkan soal harga jual mobil listrik kepada masing-masing produsen. Hal tersebut agar produsen berkomÂpetisi dalam menawarkan harga yang terjangku bagi masyarakat. "Tidak ada (batasan harga). Tapi nanti tergantung masing-masing (produsen)," ujar dia.
Selain itu, lanjut dia, penentuan harga juga akan disesuaikan denÂgan tipe dan teknologi yang diguÂnakan. Tujuannya, agar masing-masing produsen berinovasi dalam memproduksi mobil listrik.
"Nanti kita lihat, dengan penÂgaturan tergantung tipe, ada berÂbagai macam tipe, nanti setara dengan power," ungkap dia.
Airlangga menyatakan, sejauh ini produsen mobil di dalam negeri telah menyatakan kesiaÂpannya untuk mengembangkan mobil listrik. Namun para proÂdusen tersebut masih menunggu regulasi pemerintah untuk memÂberikan kepastian investasi.
"Produsennya siap, begitu kebijakan ini kita buat. Jadi kementerian sedang melakukan exercise, begitu selesai kami akan bahas dengan Kementerian Keuangan (untuk bea masuk komponen)," tandas dia. ***