Berita

Eddy Kusuma Wijaya/RMOL

Politik

Pansus Akui Cari Kelemahan KPK

RABU, 23 AGUSTUS 2017 | 10:32 WIB | LAPORAN:

Panitia Khusus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk hanya untuk mencari kelemahan, bukan kelebihan yang dimiliki oleh komisi anti rasuah itu.

Hal itu dikatakan anggota Pansus KPK, Eddy Kusuma Wijaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/8) kemarin.

"Kalau lebihnya sih nggak usah dipelajari, kan bagus. Yang kita pelajari satu kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan. Karena sebetulnya kalau saya lihat sekarang KPK masih lemah," jelasnya.


Menurut dia, KPK masih lemah dalam menangani beberapa kasus besar. Contohnya megaskandal Bank Century.

"Kasus Bank Century sampai sekarang baru di-tsk (tersangka)-kan satu orang. Kemudian Pelindo II. Sudah diangket dulu, ditetapkan tsk-nya oleh KPK, sudah didukung alat buktinya oleh BPK sampai sekarang kasusnya masih juga belum jelas. Kemudian kasus lain yang besar sdh ditentukan tersangkanya. Emirsyah Satar itu barang bukti sudah besar sekarang nggak jalan," urainya.

Belum lagi kasus-kasus lain seperti korupsi M. Nazaruddin. Dimana dari 162 proyek yang melibatkan perusahaan milik mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu baru ditangani empat proyek. Itupun yang tuntas baru dua kasus.

"Apalagi sekarang ini sampai pada kasus Miryam. Kita jadi bingung lihat kasusnya. Ada saling tusuk dari belakang, dari dalam. Kok terjadi seperti ini. Dan pernah terungkap di RDP mengatakan bahwa penyidik dipecat. Waktu itu pernah kita bicarakan antara penyidik senior, penyidik Polri dengan penyidik independen yang diangkat KPK. Dan waktu itu kita juga mencium komisionernya juga pecah. Sehingga waktu itu Novel Baswedan yang sudah diberikan SP2 oleh ketua KPK dianulir kembali. Ini banyak yang perlu kita perbaiki," paparnya lebih lanjut.

Tak hanya itu KPK menurut dia tidak menunjukkan profesionalisme. Jika KPK beralasan kekurangan personil, materil, ataupun anggaran, sebetulnya bisa didukung secara politis oleh Komisi III DPR.

"Kalau KPK kuat kita bahagia, senang, itu kebanggaan kita kalau KPK kuat bisa membuka kasus kasus besar. Jangan lari ke kasus kasus kecil yang istilahnya 10 juta, 20 juta," imbuhnya.[wid]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya