Novel Baswedan belum mau mengungkap siapa jenderal yang berada di balik aksi penyiraman air keras terhadap dirinya. Penyidik senior KPK itu baru mau mengungkap jika pelaku teror terhadap dirinya sudah tertangkap. Novel "pasang harga" nih...
Hal ini diungkapkan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Argo Yuwono. Menurutnya, penyidik yang memeriksa Novel di Singapura sempat menanyakan soal jenderal yang dimaksud. "Yang bersangkutan ditanya penyidik berkaitan dengan apa yang disampaikan di media," tutur Argo, di Bandara Soekarno Hatta, kemarin.
Namun, Novel tak mau membeberkan sebelum polisi berhasil menangkap pelaku penyerangan. "Intinya, yang bersangkutan menyampaikan, dia tidak akan menyampaikan bukti-buktinya sebelum pelakunya tertangkap. Nanti ada waktunya tersendiri akan kami sampaikan," ujar Argo menirukan ucapan Novel.
Selain pertanyaan soal jenderal, penyidik menanyai Novel soal kronologi penyerangan dirinya 11 April 2017. Novel, menurut Argo, menjelaskan kegiatannya sebelum aksi penyiraman itu terjadi. "Misalnya, ada perasaan tidak enak, seperti itu," tutur Argo.
DPRmeminta kenai Novel kemudian menceritakan peristiwa penyiraman air keras yang terjadi usai dirinya melaksanakan salat Subuh di Masjid Al-Ikhsan, Kelapa Gading, dekat rumahnya. "Dia bilang tak tahu pelakunya," ujar Argo. Karena itu, pemeriksaan Novel tak cukup membantu korps baju coklat mencari pelaku penyiraman air keras. "Untuk sementara belum," ucap eks Kabid Humas Polda Jatim ini.
Novel sempat mengungkapkan kekecewaannya terhadap kinerja kepolisian dalam mengungkap kasus ini. Argo menyatakan, korps baju coklat sudah bertindak sesuai SOP. Salah satu yang membuat Novel kecewa adalah dipublikasikannya saksi kunci oleh kepolisian. Argo lantas balik bertanya. "Saksi kunci yang mana? Saksi itu 56 orang lebih loh," selorohnya.
Kemudian, Novel juga menyebut penyidik kepolisian terburu-buru membuat kesimpulan sendiri dan mempublikasikannya. Hal ini mengesankan kepolisian sedang menutupi pihak-pihak tertentu. Argo menduga, Novel menduga macam-macam karena pelaku penyerangan belum tertangkap. "Namanya seseorang punya hak kecewa itu hal biasa ya. Kan seseorang punya perasaan masing-masing. Kalau merasa diintimidasi, ya disampaikan semuanya yang ada," tutur Argo.
Kepolisian belum mendapat titik terang. Kepolisian Australia (AFP) yang diminta bantuan untuk menganalisis tiga rekaman CCTV di sekitaran kediaman Novel rupanya juga tak mampu meningkatkan kualitas rekaman yang disebut Argo beresolusi rendah. Kepolisian pun belum mampu mengidentifikasi orang yang diduga pelaku penyiraman air keras. "CCTV sudah dibalas dari AFP Australia, jadi yang bersangkutan hasilnya tetap tak bisa kita lihat dengan jelas," tutur Argo.
Novel diperiksa Senin (14/8) di ruang rapat lantai 3 Gedung Utama KBRI di Singapura. Dia ditemani tiga anggota tim advokatnya, yakni Alghiffari Aqsa, Haris Azhar dan Yati Andriyani. Selain itu hadir pula Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. Sementara dari Polda Metro Jaya, ada Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Rudy Herianto Adi Nugroho, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Kasubdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Dedy Murti dan Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan.
Selain itu ada juga dua penyidik bernama Raindra dan Fadilah. Informasi yang beredar, dua orang ini adalah penyidik baru yang diutus langsung oleh Kapolda Metro Jaya baru, Irjen Idham Aziz.
Menanggapi hal itu, Argo tak ada masalah dengan pergantian penyidik. "Jadi yang namanya penyidik mau baru mau lama ya namanya juga penyidik. Boleh-boleh saja. Mau masalah kasus apa namanya Sprin dari Kapolda," tegasnya.
Wakapolri Komjen Syafruddin juga memahami kekecewaan Novel. "Sebagai manusia, kasusnya belum terungkap tuntas, wajar kecewa, nggak cuma Novel saja," tuturnya. Meski begitu, dia mengatakan perkembangan proses penyelidikan gabungan yang dilakukan Polri dan KPK berjalan dengan baik. "Perkembangannya bagus, teman-teman bisa mengikuti. Keseriusan Polri, keseriusan KPK yang sudah bergabung dalam satu tim, ya kita lihat hasilnya," tandasnya.
Di tengah kondisi ini, Fahri Hamzah masih sinis terhadap Novel. Wakil Ketua DPR itu mengaku melihat Novel jalan-jalan di Orchad Road, Singapura.
"Saya melihat video Novel jalan-jalan di Orchard Road, ya tolong diklarifikasi. Kalau dia jalan-jalan di Orchard artinya dia sehat," ujarnya di Gedung DPR, kemarin. Dia meminta Novel lekas pulang ke Tanah Air. Malahan, dia menyamakan Novel dengan para koruptor BLBI yang kini berdiam di luar negeri.
"Pulanglah ditangani oleh dokter-dokter Indonesia, bicara di sini. Ada apa sembunyi di Singapura kayak koruptor BLBI gitu loh. Datang saja ke sini, dan ngomong baik-baik," selorohnya. Fahri juga mengatakan DPR siap memberikan perlindungan jika Novel merasa terancam. "Kita kasih perlindungan tapi ngomong yang benar, jangan cari sensasi," tandasnya. ***