Berita

Foto/Net

Bisnis

Industri Pulp & Kertas Lecek

Kekurangan Bahan Baku Hingga Hambatan Dagang
SELASA, 15 AGUSTUS 2017 | 09:45 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengusaha meminta pemerintah untuk memberikan perhatian khusus untuk industri bubur kertas (pulp) dan kertas (paper) dalam negeri. Saat ini, industri pulp dan kertas sedang lecek alias dalam tekanan karena kekurangan bahan baku, energi, keuangan, serta hambatan perdagangan internasional.

 Dewan Pakar Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Rusli Tan mengatakan, pen­gelolaan industri kertas me­merlukan perhatian khusus dari pemerintah untuk berkembang. "Pengelolaan dari Hutan Tana­man Industri (HTI) hingga men­jadi kertas bukan hal mudah," ujarnya, kemarin.

Ia mengatakan, pengelola industri pulp dan kertas ditun­tut untuk mencegah kebakaran lahan. "Industri di Indonesia telah melakukan penjagaan HTI dengan lebih baik. Investor telah berkontribusi untuk mencegah kebakaran lahan. Sekarang ke­berpihakan pemerintah dibutuh­kan," katanya.


Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Liana Bratasida mengatakan, secara umum industri pulp dan kertas Indonesia saat ini men­galami berbagai tekanan. "Kami kekurangan bahan baku, energi, keuangan serta hambatan perda­gangan internasional," ujarnya.

Ia mengungkapkan, setidaknya hingga saat ini ada lima perusa­haan kertas jenis kraftliner dan corrugating medium yang tutup dan tidak beroperasi yaitu PT Asia Paper Mills, PT Wirajaya Packin­do, PT Sarana Kemas Utama, PT Kertas Blabak dan PT Surabaya Agung Industri. "Saat ini terdapat beberapa industri kertas yang tutup dan tidak beroperasi dari 84 industri," ungkap dia.

Liana mengungkapkan, ketersediaan bahan baku kertas daur ulang nasional sebesar 4,7 juta ton per tahun. Jumlah tersebut masih belum mampu mencu­kupi kebutuhan industri nasional yaitu sebesar 6,7 juta ton per tahun.

"Sehingga saat ini industri mengimpor kertas daur ulang dari berbagai negara yang memi­liki tingkat daur ulang tinggi salah satunya Jepang," kata dia.

Di sisi lain, lanjut Liana, in­dustri pulp saat ini mengalami hambatan ketersediaan bahan baku kayu. Baik yang terkait dengan kebijakan pemerintah maupun tekanan dari negara-negara pesaing yang dikaitkan dengan masalah lingkungan.

Selain itu biaya energi yang ditanggung oleh industri pulp dan kertas masih cukup tinggi karena industri pulp dan kertas merupakan salah satu pengguna gas sebagai energi. Namun harga gas yang diterima masih cukup tinggi yaitu sebesar 8-10,93 dolar AS per MMBTU.

"Produsen kertas Indonesia mengalami tekanan atas tudu­han dumping dan subsidi yang dilakukan oleh Amerika dan Australia. Tuduhan tersebut menambah bea masuk produk kertas Indonesia untuk diekspor ke negara tersebut dalam jangka waktu 5 tahun," kata dia.

Agar tak ada lagi produsen pulp dan kertas yang berhenti beroperasi, Liana berharap pe­merintah bisa mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap industri ini. Dengan demikian, industri pulp dan kertas juga bisa berkontribusi lebih besar terh­adap ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

"Pemerintah dapat memberi­kan kebijakan yang mendorong iklim usaha industri pulp dan kertas yang lebih kondusif teru­tama untuk ketersediaan bahan baku, energi serta perdagangan," tandas dia.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang akan digenjot pertum­buhaannya oleh pemerintah. "Indonesia memiliki keunggulan komparatif terutama di bidang bahan baku dibandingkan den­gan negara-negara pesaing yang beriklim sub tropis," ujarnya.

Panggah meminta Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia agar memproses potensi sumber daya alam yang tersedia di dalam negeri menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi. "Pengusaha harus tetap menjaga kelestarian lingkun­gan hidup pada porsi yang tepat," tegasnya.

Ia mengungkapkan, jumlah kapasitas terpasang industri pulp nasional pada 2017 akan menin­gkat dari 7,93 juta ton menjadi 10,43 juta ton per tahun. Sedangkan, jumlah kapasitas terpasang industri kertas nasional mencapai 12,98 juta ton per tahun.

Saat ini, industri pulp dan kertas di dalam Indonesia men­capai 84 perusahaan. "Tambahan kapasitas pulp tersebut dikontri­busikan oleh PT OKI di Sumatera Selatan sekitar 2,5 juta ton, yang akan mulai berproduksi secara komersial pada Februari 2017," ungkapnya.

Panggah menilai, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki peluang cukup besar untuk pengembangan in­dustri pulp dan kertas. Selain beberapa negara di Amerika Latin dan Asia Timur.

Panggah mengatakan, industri pulp dan kertas berperan penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Antara lain dilihat dari kontribusi dalam perolehan devisa sebesar 5,38 miliar dollar AS pada tahun 2015.

Selanjutnya, sampai Septem­ber 2016 mencapai 3,79 miliar dollar AS atau menempati per­ingkat ke-7 sebagai penyumbang devisa terbesar dari sektor non-migas. "Industri pulp dan kertas juga menyerap sebanyak 260 ribu tenaga kerja langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak lang­sung," imbuh Panggah.  ***

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya