Berita

Foto/Net

Bisnis

Ekonomi Kita Bakal Terus Jalan Di Tempat

Jika Gaduh Politik Tidak Kelar-kelar
MINGGU, 13 AGUSTUS 2017 | 10:32 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

RMOL. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat pertumbuhan ekonomi Kuartal II-2017 yang stagnan di angka 5,01 persen disebabkan gaduh politik. Jika gaduh politik tidak selesai-selesai, pertumbuhan ekonomi tidak akan naik kelas.

 Ekonom Indef Bhima Yudhis­tira Adhinegara mengatakan, ada beberapa peristiwa politik yang pada akhirnya memberikan dampak pada perekonomian. Antara lain, gaduh Undang- Undang Pemilu, isu toleransi, korupsi, dan isu reshuffle yang masih menggantung.

"Itu semua sumber ketidak­pastian yang pada akhirnya membuat gejolak bagi per­ekonomian. Jika gaduh terus, ekonomi bisa masuki masa surut," katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Bhima mengungkapkan, dampak dari gaduh politik sangat terasa. Hasil survei konsumen Bank Indonesia (BI) periode Juli 2017 mencatat ada penghentian belanja sementara dari kelom­pok masyarakat yang memiliki pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan. Ini terjadi karena mereka melakukan aksi wait and see melihat ekspektasi politik dalam 6 bulan ke depan kurang baik.

"Rata-rata kelompok yang pengeluarannya di atas Rp 5 juta per bulan sedang berpuasa dari konsumsi karena melihat ke depan memasuki tahun politik, situasinya juga kurang mem­baik," ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Bhima, adanya faktor instabilitas ke­bijakan. Pemerintah kerap kali melakukan kebijakan yang blun­der. Misalnya, harga eceran tertinggi beras yang berujung pada digrebeknya PT Indo Beras Unggul (IBU). Jadilah, ini senti­men negatif bagi dunia usaha. Jangan heran dunia usaha pun mengerem bisnisnya.

Bhima menjelaskan, kon­disi stagnan mengindikasikan perekonomian sedang dalam kondisi tidak sehat. Harusnya menjadi alarm berbahaya bagi pemerintah jika situasinya tidak berubah. Rencana pemerintah untuk memperbaiki situasi den­gan mengeluarkan paket kebi­jakan baru sangat mubazir. Su­dah 15 paket kebijakan ekonomi hingga kini diterbitkan, namun kenyataannya belum ampuh memecah permasalahan.

Sebelum mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang baru, kata dia, ada baiknya pemerintah mengevaluasi kembali efek­tivitas paket-paket yang telah ada. Kalau ditemukan perizinan yang belum berubah seharus­nya reformasi kebijakan lebih galak.

"Jangan sampai kepercayaan publik dan dunia usaha terhadap pemerintah makin memudar akibat terlalu banyak menge­luarkan paket kebijakan, tapi tidak berdampak besar untuk ekonomi," tegasnya.

Dirinya mengaku, khawatir ke depan jika situasi ini tidak berhasil diredam pemerintah, target ekonomi yang dicanang­kan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Peruba­han (APBNP) 2017 sebesar 5,2 persen cukup sulit digapai. "2017 bisa tumbuh 5,1 persen saja sudah bagus. Tapi, seperti­nya sulit," ucapnya.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasen­tiantono punya pandangan se­rupa. Tony menilai, ketidakpas­tian ekonomi sangat terasa dan diperparah dengan kegaduhan politik. Aksi demonstrasi besar di Jakarta yang ternyata membekas kepada para pelaku ekonomi, baik produsen maupun konsumen.

Akibatnya, masyarakat wait and see untuk melakukan spending sehingga terlihat adanya penurunan daya beli. Hal ini pun merupakan dampak dari masalah yang terjadi di hulu yang melakukan efisiensi.

"Jadi, saat ini ekonomi Indonesia terlalu gaduh dengan poli­tik. Politik sudah mengganggu kinerja ekonomi lewat jalur kepercayaan sehingga menim­bulkan ketidakpastian. Ini yang harus dikelola dengan baik," ujarnya.

Tony juga mengkritisi wacana redenominasi dan pemindahan ibu kota. Menurutnya, wacana itu justru menambah kegaduhan yang sudah ada. Di sisi lain, Tony juga mencermati hawa pemilu 2019 yang akan terasa mulai 2018. Dirinya melihat kemungkinan besar akan ada extra spending yang artinya akan mendorong sisi demand.

"Tensi politik pasti meningkat. Sehingga bakal gaduh lagi. Intinya, pemerintah jangan me­nambah-nambah perkara yang sudah ada dengan wacana rede­nominasi maupun pemindahan ibu kota," tegasnya. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya