Berita

Foto/Net

Otomotif

Industri Otomotif Nasional Masih Berkutat Di LCGC

Negara Lain Sudah Produksi Mobil Hidrogen
JUMAT, 11 AGUSTUS 2017 | 09:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Industri otomotif nasional masih tertinggal jauh dari negara lain yang sudah memproduksi mobil ramah lingkungan, bahkan bisa menciptakan kendaraan berbahan bakar hidrogen. Di Indonesia, produsen mobil masih berkutat di kendaraan low cost green Car (LCGC).

Menteri Perindustrian (Men­perin) Airlangga Hartarto menga­takan, industri otomotif nasional harus berdaya saing. "Produk otomotif harus memenuhi aspek keamanan, kenyamanan, hemat bahan bakar, ramah lingkungan, serta memiliki harga terjangkau," ujarnya pada Pembukaan Gai­kindo Indonesia Internaonal Auto Show (GIIAS) 2017 di ICE BSD City, kemarin.

Menurutnya, industri otomotif nasional masih jauh tertinggal dari negara lain. "Jika sekarang kita masih mengembangkan LCGC, negara-negara lain mulai melirik kendaraan bertenagalistrik bahkan telah menciptakan yang berbahan bakar hidrogen karena jauh lebih hemat energi dan ramah lingkun­gan," katanya.


Ia menegaskan, pemerintah telah menyelesaikan penyusunan regulasi baru tentang industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih. "Kebijakan dan program pengembangan industri otomotif mengarah ke kendaraan bermotor dengan fuel ekonomi tinggi dan rendah karbon," tuturnya.

Airlangga menyebutkan, kendaraan rendah emisi atau low carbon emission vehicle (LCEV) ditargetkan masuk pasar Indonesia mencapai 25 persen atau 400 ribu unit pada tahun 2025. "Bentuknya bisa mobillistrik, hibrida atau lain sebagainya," ungkapnya.

Ia menambahkan, optimisme terhadap industri otomotif juga terlihat dari jumlah ekspor ken­daraan yang terus mengalami kenaikan. "Pada tahun 2015 kita sudah surplus 466 juta dolar AS ,dan akhir tahun 2016 meningkat menjadi 600 juta dolar AS . Jadi kita sudah menjadi net exporter dari sektorotomof," imbuhnya.

Airlangga pun berharap GI­IAS 2017 mampu membantu penjualan kendaraan tahun ini. "Kalau (GIIAS) tahun lalu ber­hasil jual 20 ribu unit kendaraan yang nilainya hampir Rp 6 triliun, tentu tahun ini diharapkan bisa minimal sama mengingat jumlah merek yang ikut lebih banyak dari tahun lalu," ujarnya.

Ia berharap, agar GIIAS men­jadi ajang untuk unjuk diri bagi pabrikan otomof didalam negeri terhadap kualitas kendaraan yang diproduksi termasuk da­lam peningkatan penggunaan komponen lokal. "Peningkatan konten lokal bisa mendongkrak daya saing indusri otomof di Indonesia," ujarnya.

Airlangga menyampaikan, peraturan baru yang akan segera diberlakukan bertujuan juga untuk mendorong peningkatan investasi perakitan kendaraan bermotor hingga pembuatan komponen di dalam negeri.

"Saat ini ada 36 perusahaan yang bergerak di sektor otomotif di Indonesia. Nilai tambah terhadap konten lokal diharapkan bisa meningkat," tuturnya.

Selain itu, ada sekitar 1.500 perusahaan komponen di la­pis pertama hingga kega yang menunjukkan masih terbukanya peluang ekspor. "Kami pun ten­gah menggarap kebijakan untuk meningkatkan ekspor dengan me­nyeragamkan insentif mobil sedan di luar negeri," ungkapnya.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perin­dustrian (Kemenperin) I Gus Putu Suryawirawan mengatakan, men­ingkatnya kebutuhan terhadap sarana transportasi, khususnya kendaraan bermotor berperan dalam memacu tumbuh kembang­nya industri otomotif di Indonesia. "Pengembangan industri otomof memiliki mulplier eect yang cukup luas," terangnya.

Untuk itu, kata Putu, pemerintah terus mendorong sektor industri otomotif agar menjadi pilarutama pertumbuhan ekonomi nasional melalui program-program strategis. Langkah ini bertujuan, antara lain untuk mengimbangi kompesi dan impor kendaraan khususnya dari ASEAN, serta mendorong investasi.

"Selain itu, mendorong kemandirian Indonesia di bidang teknologi otomotif melalui pengua­saan teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia, serta pengembangan dan penga­manan pasar dalam negeri seba­gai basis untuk mengembangkan industri otomof yang mandiri dan berdayasaing global," tukasnya.

Ketua Umum Gabungan In­dustri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nangoi menyampaikan, saat ini industri otomotif dalam negeri sudah mulai menyelaraskan dengan industri otomotif global yang sedang mengarah ke ken­daraan efisien bahan bakar dan ramah lingkungan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menetap­kan standar emisi gas buang ken­daraan bermotor setara dengan euro IV," ujar Nangoi. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya