Berita

Politik

KIP: Cara Jokowi Mengambil Keputusan Sudah Pas

KAMIS, 03 AGUSTUS 2017 | 07:37 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Ramainya diskusi tentang rencana penggunaan dana haji untuk pembangunan infrastruktur merupakan sesuatu yang positif, ditinjau dari prinsip keterbukaan informasi publik dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Demikian dikatakan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) RI Abdulhamid Dipopramono dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Kamis (3/8).

Ramainya diskursus ini terjadi setelah Presiden Joko Widodo melontarkan kemungkinan dipakainya dana tabungan calon haji untuk membiayai pembangunan infrastruktur.


"Sebagai Presiden memang sudah seharusnya menyampaikan gagasan-gagasan besar, kebijakan strategis, serta upaya terobosan kreatif dan berani untuk penyelesaian persoalan bangsa. Adapun urusan operasional atau terjemahan kebijakan itu merupakan tugas para menteri, pimpinan lembaga, tokoh terkait, pakar, dan pemangku kepentingan lainnya," kata Abdulhamid.

Selama ini, menurut Abdulhamid, Presiden Jokowi memang sering melontarkan gagasan-gagasan dan kebijakan besar yang dinilai kontroversial tapi sebenarnya bertujuan mengurai kebekuan persoalan bangsa yang sudah berlangsung sangat lama. Seperti soal tol laut, penyamaan harga BBM di Papua dengan daerah lain, prioritas membangun wilayah perbatasan/pinggiran, membangun jalan tol di pulau-pulau luar Jawa, pembangunan Blok Masela, dan lain-lain.

Gagasan-gagasan besar tersebut perlu menjadi bahan bahasan, kajian, dan solusi diskusi di level bawah Presiden. Tujuannya agar diketahui tingkat kelayakannya, hitungan risiko-risikonya, dan kemungkinan operasionalnya, yang hasilnya bisa saja terdiri dari beberapa alternatif. Bagi Presiden Jokowi sendiri, semua gagasan tersebut mengandung risiko yang tidak kecil dan mungkin membuatnya tidak populer.

Akan halnya ide keinginan Presiden Jokowi mendayagunakan dana tabungan haji yang dianggap "ngendon" di bank untuk membangun infrastruktur, hal tersebut ketika dia lontarkan belum merupakan suatu keputusan. Langkah ini baik dan menunjukkan sikap terbuka dalam pengambilan keputusan strategis dan mendasarkan pengambilan keputusan sesuai prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

"Dalam hal ini, Presiden telah membuka wacana untuk perumusan kebijakan yang akan diambilnya. Sebelumnya Presiden ingin memberi kesempatan kepada siapa pun, utamanya yang memiliki kompetensi, untuk mendiskusikan, memberi kritik, saran, dan masukan, sebagai dasar membuat keputusan," terangnya.

Ada yang berpandangan bahwa hal ini menimbulkan kegaduhan, namun sebenarnya merupakan kegaduhan yang positif untuk menjaring aspirasi dan sesuai prinsip keterbukaan informasi publik dalam pengambilan keputusan.

"Disinilah tantangan yang harus disambut oleh para pembantu Presiden dan para pemangku kepentingan untuk merumuskan secara pas terjemahan dari gagasan tersebut," sebut Abdulhamid.

Sangat boleh jadi keputusannya kemudian tidak menggunakan dana haji untuk pembangunan infrastruktur, atau sebaliknya, menggunakan. Hal ini tergantung kelayakan, risiko-risiko, dan aspirasi publik terhadap gagasan tersebut.

Jika dana tersebut akan dipakai, maka aparatur tingkat operasional di bawah Presiden harus merumuskan secara lengkap dan detail peta jalan alias road map yang akan ditempuh, yang hasilnya tidak merugikan atau malah bermanfaat bagi para pemilik dana (calon haji), sekaligus jelas kemanfaatannya bagi pembangunan dan kemajuan bangsa.

Menurut Abdulhamid, hal ini tidak berbeda dengan keputusan Presiden ketika menerapkan tarif sama untuk harga BBM di Papua. Tugas PT Pertamina, kementerian dan lembaga terkait, serta Pemprov Papua untuk menerjemahkan operasionalisasi hal tersebut. Bisa jadi keuntungan PT Pertamina akan turun atau ada subsidi silang untuk itu. Hal itu merupakan risiko yang harus dicari solusinya oleh pelaksana kebijakan. [rus]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Serap Aspirasi Warga Pandeglang, Arif Rahman Kawal Sektor Pertanian dan Perikanan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:14

Hormati Putusan MK, Komisi X DPR Minta Pendidikan dan MBG Tetap Jalan Beriringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak Maret

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:51

Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:41

Kesiapan Fasilitas Zikir Kebangsaan Monas: Dari Ambulans Hingga Ratusan Ribu Konsumsi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:34

K-SIGN Rote Ndao Dipacu Jadi Pilar Swasembada Garam Nasional

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:15

Harga Logam Mulia Terkoreksi Meski Mampu Akhiri Tren Penurunan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 09:02

Dul Mungkin Tak akan Naik Bus Malam Lagi Setelah Ketahuan Bawa Sabu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:45

Arab Saudi Sambut Kesepakatan Pelucutan Senjata di Gaza, Israel Harus Mundur

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:34

Ramai Mal Pasang Pagar Tinggi di Tengah Situasi Kamtibmas Kondusif

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:23

Selengkapnya