Berita

Foto/Net

Nusantara

Gerakan Literasi Harus Dibarengi Pengadaan Buku Dan Digitalisasi

SABTU, 29 JULI 2017 | 09:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Gerakan literasi kembali menjadi isu hangat di dunia pendidikan Indonesia. Presiden Joko Widodo melalui Nawacita yang kedelapan bercita-cita merevolusi karakter bangsa melalui penataan kurikulum pendidikan nasional.

Nawacita kedelapan ini diterjemahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Permendikbud dengan gerakan membaca buku nonteks selama 15 menit sebelum jam pembelajaran setiap harinya.

Di Kurikulum 2017 literasi juga semakin ditekankan yang diintegrasikan dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Kemampuan Abad 21, dan Higher Order Thinking Skills (HOTS).


"Secara sederhana literasi dimengerti sebagai kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas," tegas peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Agustinus Sucipto dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (29/7).

Ia menjelaskan seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya teknologi dan media massa maka dunia literasi bukan lagi sebatas pada buku dan media cetak, tetapi berkembang pada literasi media elektronik dan media digital.  

"Revolusi dalam kontek melek literari tentunya menjadi dorongan yang sangat bagus dari pemerintah mengingat rendahnya minat baca masyarakat Indonesia," imbuhnya.

Ia mencontohkan penelitian The World’s Most Literate Nations, Central Connecticut State University (2016) yang menemukan minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya 1 peringkat di atas Botswana dan di bawah Thailand yang berada pada peringkat 59.

"Rendahnya budaya literasi di Indonesia berakibat pada fenomena bahwa masyarakat Indonesia begitu mudahnya percaya pada berita-berita hoax (kabar palsu) dan kemudian menyebarkannya," terang peneliti yang pernah mendalami filsafat di STFT Widya Sasana Malang.

Ia meyakini fenomena hoax menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tidak biasa memverifikasi isi berita, mengkomparasikan berita di media lain dan tidak biasa mengkritisi berita.

"Di dunia pendidikan, baik di sekolah maupun kampus-kampus seringkali buku-buku yang tersedia di perpustakaan adalah buku-buku yang sudah usang sehingga perpustakaan sering tidak mengakomodir kebutuhan akan informasi yang baru," tandasnya.

Belum lagi kesenjangan akses berliterasi baik cetak, elektronik maupun digital antara wilayah perkotaan dengan daerah pelosok sangat mencolok. Ia menemukan fakta bahwa akses berliterasi baik cetak, elektronik maupun media online di pelosok masih sangat rendah sehingga semakin memperparah rendahnya minat masyarakat Indonesia berliterasi.

"Dalam keadaan seperti ini tentunya cita-cita pemerintah untuk mewujudkan revolusi karakter atau mental bangsa yang salah satunya melalui budaya literasi bukan perkara yang mudah," jelas peneliti asal lereng Gunung Merapi.

Selain pembiasaan membaca buku non pelajaran 15 menit di sekolah tentunya pengadaan buku-buku baru perlu diusahakan. Perpustakaan swadaya masyarakat di pelosok daerah perlu mendapat perhatian khusus.

Ia berpendapat di samping literasi perpustakaan, literasi yang bersifat digital perlu digalakkan kembali. Saat ini banyak warga terpencil kesulitan untuk mengakses internet. Mobil Internet 2011 silam tentu akan sangat membantu mengurangi kesenjangan akses berliterasi secara digital bila kembali digalakkan.

Ia pun prihatin informasi yang menyesatkan, propaganda yang bernada kebencian dan isu-isu SARA selain melalui media digital juga sudah disebarkan melalui buku-buku. Ironisnya buku-buku tersebut sudah masuk kedalam dunia pendidikan.

"Pengawasan pemerintah terhadap peredaran buku, baik buku untuk pendidikan maupun buku yang bersifat umum, harus pula serius," pungkas Agustinus Sucipto, pendidik di kota Solo tersebut. [rus]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Mojtaba Khamenei Janjikan Kekalahan Pahit bagi AS-Israel

Minggu, 19 April 2026 | 16:14

Wondr Kemala Run 2026 Putar Roda Ekonomi hingga Rp140 Miliar

Minggu, 19 April 2026 | 16:06

India Protes ke Iran, Dua Kapalnya Ditembak di Selat Hormuz

Minggu, 19 April 2026 | 15:33

Didik Rachbini: Video Ceramah JK Direkayasa untuk Memecah Belah

Minggu, 19 April 2026 | 15:29

Ketua GPK: Isu Pemecatan Massal PPP Menyesatkan

Minggu, 19 April 2026 | 14:57

KPK Soroti Risiko Korupsi Pinjaman Luar Negeri

Minggu, 19 April 2026 | 14:13

MUI Dorong Penguatan Akhlak di Kampus untuk Cegah Kekerasan Seksual

Minggu, 19 April 2026 | 14:09

Iran Ringkus 127 Orang Terduga Mata-mata Musuh

Minggu, 19 April 2026 | 13:39

Cak Imin Wanti-wanti Penyalahgunaan Vape untuk Narkoba

Minggu, 19 April 2026 | 13:25

Menkop Ajak DPRD Dukung Kopdes Jadi Mesin Ekonomi Baru

Minggu, 19 April 2026 | 13:10

Selengkapnya