Berita

Foto/Net

Politik

Dakwah Nunggang "Gajah" Terbang

Bos NU Makin Modern
RABU, 26 JULI 2017 | 09:17 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sepekan terakhir ini, PBNU jadi bahan gunjingan warga dunia maya. Ada dua hal yang jadi bahan gunjingan yaitu soal gelontoran duit Rp 1,5 triliun dari pemerintah dan terakhir soal Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj yang naik helikopter. Dua topik itu bikin jagat Twiiter panas, yang pro dan kontra adu debat dan saling klarifikasi.

Isu yang pertama muncul medio pekan lalu, atau saat panas-panasnya pencabutan badan hukum ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Kemenkumham. Linimasa Twitter pun diramaikan dengan berbagai protes. Satu di antaranya adalah potongan video berdurasi dua menitan saat budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun memberikan ceramah di acara Kenduri Cinta yang biasa digelar sebulan sekali di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Dalam potongan itu, Cak Nun memprotes kebijakan pemerintah mengeluarkan Perppu Ormas yang menurutnya adalah bagian dari politik pecah belah. Soalnya di saat yang sama, NU mendapat Rp1,5 triliun untuk pengembangan ekonomi. "Yang satu ngrakoti duit (makan duit), yang satu diidek-idek (diinjak-injak). Dan itulah pecah belah. Divide et impera yang luar biasa di rezim sekarang ini," begitu kata Cak Nun, dalam video itu. Rupanya video itu diframing dan disebar di jagat Twitter.


Tak lama setelah itu, isu lain muncul yaitu soal Ketum PBNU KH Said Aqil beli helikopter. Sebuah foto Said di landasan heli di atas gedung yang jadi bahan gunjingan.

Atas dua tuduhan tersebut, akun-akun yang terafiliasi dengan Nahdlatul Ulama memberikan klarifikasi. Akun @NU_online misalnya, lini masanya dipenuhi dengan berbagai klarifikasi. "Biar jelas baca ini. Itu berita bulan Februari yang lalu. Perbanyak istighfar, biar hidup kita dijauhkan dari fitnah," cuit @nu_online, sambil menautkan link berita soal kerja sama pemerintah dengan NU yang terbit Februari lalu. "Tumben sumbu pendek itu kerjanya cuma nyebar fitnah mulu. Kali KH ini Said Aqil yang difitnah menerima Rp1,5 triliun dan punya helikopter," kata @edtrellayyi.

Situs nu.or.id juga menyampaikan klarifikasi terkait berita penyaluran dana Rp1,5 triliun. Menurut Ketua PBNU Robikin Emhas menyebarnya berita itu adalah framing untuk memojokkan NU. "Berita lama (Februari lalu) kini diviral oleh kelompok tertentu dalam momentum terbitnya Perppu 2/2017," kata Robikin. Ia menjelaskan, program kredit usaha ultra mikro tersebut bukan hanya diperuntukan bagi warga Nahdlatul Ulama. Tapi untuk semua warga RI.

Menurutnya, ada pihak tertentu berusaha membangun kesan negatif seolah dukungan NU terhadap pemerintah untuk membubarkan ormas anti-Pancasila adalah karena ada konsesi tertentu. "Kami tegaskan bahwa PBNU tidak ada deal apa pun dengan Pemerintah. Tuntutan NU untuk membubarkan ormas anti-Pancasila adalah wujud komitmen nasionalisme terhadap kelangsungan bangsa dan NKRI sebagaimana ungkapan hubbul wathan minal iman," paparnya.

Wasekjen PBNU, Ishfah Abidal Aziz mengatakan, judul berita tersebut tak sesuai dengan realita yang terjadi. Menurutnya kerjasama Kementerian Keuangan terkait program itu dengan nominal mencapai Rp 1,5 Triliun tersebut tak hanya dilakukan bersama PBNU, namun juga dengan ormas lain. "Judul berita tersebut sesat dan menyesatkan, karena tidak sesuai dengan isi berita dan juga tidak sesuai dengan realitasnya," kata Ishfah.

Sementara, akun @muslimModerat membuat klarifikasi dalam sebuah berita soal kunjungan Said menggunakan helikopter. Dalam situsnya, kunjungan menggunakan helikopter tersebut adalah ketika Said Aqil melaksanakan tugas pada Minggu, 16 Juli lalu. Dengan agenda sangat padat sehingga terpaksa menggunakan heli sebagai sarana penunjang kegiatan yang memang dalam satu hari ada dua kegiatan yg hampir bersamaan waktunya dengan radius jarak yang amat jauh, yaitu Jakarta- Cirebon. Pagi-pagi, Said Aqil memberi ceramah di pondok pesantres Kempek, Palimanan. Sorenya, Said juga menghadiri acara di PP Muslimat di Jakarta dalam peringatan Hari Anak Nasional. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya