Berita

Politik

Indonesia Harus Mewaspadai Ancaman Perang Asimetris

SENIN, 24 JULI 2017 | 21:27 WIB | LAPORAN:

Bangsa Indonesia harus mewaspadai ancaman dari perang asimetris. Meskipun perang ini hanya menggunakan ide dan tidak menggunakan senjata mutakhir, namun hal ini ancamannya cukup besar.

Anggota Komisi I DPR RI, Bobby Adhityo Rizaldi menjelaskan, perang asimetris di Indonesia sudahh terjadi sejak tahun 1998. Hal itu ditandai dengan adanya aksi demostrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa ketika itu.

"Ada infrastruktur opini melalui media sosial," kata Bobby dalam acara Pengajian Kebangsaan’ serta diskusi bersama dengan tajuk ‘Menangkal Perang Asimetris dan Upaya Penguatan Idiologi Pancasila’ yang diselengarakan oleh Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) di Jakarta, Senin (24/7).


Politisi Partai Golkar ini menduga, Indonesia merupakan salah satu negara incaran dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk dijadikan sebagai sasaran perang asimetris. Sebab, Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa.

Negara ini, katanya, kaya akan bahan baku untuk dipasok ke negara maju. Namun sayang, setelah diolah menjadi barang jadi, negara-negara maju itu malah kirim balik produk jadinya ke Indonesia dengan harga yang selangit.

"Indonesia adalah korban perang asimetris sehingga perlu adanya kebijakan-kebijakan yang fokus untuk menanggulangi hal tersebut," sesalnya.

Nah, untuk menangkal propaganda perang asimetris, kata Bobby semua pihak harus berpegang teguh pada empat pilar bangsa. Yang mana salah satunya yakni Pancasila.

"Dan Partai Golkar sebagai penjaga Pancasila," tegasnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran Bandung, Muradi menilai AMPG dan Partai Golkar dapat mengambil peran dan bela negara menjadi imun dari peperangan asimetris.

"Kesiapan kita sebagai negara, kita sebagai personal sebagai bagian dari peperangan asimetris. Nah ini bisa dilakukan oleh AMPG dan Partai Golkar," kata Muradi. [sam]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya