Berita

HTI/net

Politik

Akademisi Asal Universitas Saudi: Klaim Hizbut Tahrir Omong Kosong

MINGGU, 23 JULI 2017 | 01:30 WIB | LAPORAN:

Langkah pemerintah membubarkan organisasi masyarakat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dinilai sudah tepat. Pasalnya, HTI bukan sebagai organisasi dakwah melainkan cabang dari partai politik di Palestina.

Akademisi dari King Fadh University of Saudi Arabia, Sumanto Al Qurtuby menjelaskan HTI merupakan organisasi penghayal terberat di dunia. Pasalnya Hizbut Tahrir sebagai cikal bakal HTI menginginkan adanya idiologi islamisme di negara-negara timur tengah.

Namun keinginan tersebut tidak terwujud lantaran rezim pemerintahan di kawasan timur tengah lebih memilih idiologi liberalisme nasionalisme dan tidak menggunakan ideologi islamisme. Selain itu, kekecewaan atas kekalahan Arab oleh Israel juga menjadi salah satu faktor lahirnya Hizbut Tahrir.


"Karena frustasi, idiologi islam liberal di negara di timur tengah dan frustasi kekalaah Arab dari Israel, mereka mendirikan Organisasi yang menjadi partai Hizbut Tahrir yang berusaha untuk melakukan revitalisasi terhadap semua sistem politik," ungkap Sumanto dalam diskusi bertajuk "Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia" di Auditorium Badan PPSDM Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Sabtu (22/7).

Sumanto menambahkan disisi lain pemikiran pendiri Hizbut Tahrir Taqi al-Din al-Nabhani tidak diterima oleh negara-negara timur tengah lantaran dianggap membawa misi baru untuk mengganti struktur sistem politik dan mengganti pemerintahan yang sudah terbentuk karena dianggap tidak islami.

"Di Arab saudi dilarang dan berbagai macam negara di Arab dan timur tengah, karena ideologinya dianggap bertentangan dan membahayakan tatanan struktur sosial, politik yang ada di kawasan. Tidak hanya menentang ideologi, tapi karena pendiri Hizbut Tahrir ingin membangkitkan kembali dinasti, yang dulu pernah berkuasa di Oman di abad 11 hingga 13," ujarnya.

Menurut Sumanto, banyak masyarakat tertipu dengan lambang keislaman yang dibawa Hizbut Tahrir. Dibalik lambang tersebut, Hizbut Tahrir merupakan gerakan politik yang berujuan politis yakni mengganti pemeritahan.

"Hizbut Tahrir sering klaim sebagai kelompok keagaman yang hanya berdakwah itu omong kosong. Hizbut Tahrir bukan gerakan dakwah. Hizbut Tahrir itu gerakan politik, itu partai politik dan tidak menyebarkan masalah keislaman. Tapi sayangnya banyak masyarakat yang tertipu. Kalau sudah ada simbol islam langsung mengikuti," demikian Sumanto.[san]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya