Berita

Setya Novanto/Net

Politik

Secara Etika Novanto Harus Tinggalkan Kursi Ketua DPR

KAMIS, 20 JULI 2017 | 20:32 WIB | LAPORAN:

Sikap Ketua DPR RI Setya Novanto yang tidak segera mundur dari jabatannya setelah menjadi tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi cukup memprihatinkan, mengingat ketua DPR adalah jabatan mulia. Sebagai wakil rakyat, Novanto harus mundur agar dapat fokus menghadapi kasus hukum yang menerpanya.

Analis politik Labor Institute Indonesia Andy William Sinaga menjelaskan, secara etika politik terdapat prinsip moralitas dalam humanisme yang harus dijunjung tinggi. Sehingga seorang pemimpin harus benar-benar bersih, berintegritas dan dapat menjadi suri tauladan bagi yang dipimpinnya.

"Secara nurani dan berbesar hati, Pak Novanto harus bersikap negarawan untuk lebih mementingkan kepentingan bangsa yang lebih besar," ujarnya kepada redaksi, Kamis (20/7).


Menurutnya, meski ada prinsip hukum presumption of innocence atau praduga bersalah, akan tetapi proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan KPK atas kasus korupsi e-KTP dan penyebutan nama Novanto di persidangan sebenarnya merupakan pertimbangan untuk mundur dari kursi ketua DPR.

"Kami juga mengimbau agar nama-nama anggota DPR yang diduga menerima suap e-KTP secara sukarela dengan penuh integritas dan moralitas untuk mundur. Bukan justru membuat manuver pansus, di mana seolah-olah proses penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi yang dilakukan KPK tidak benar dan tidak prosedural," jelas Andy.

Dia juga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia harus segera berbenah dari sisi integritas dan moralitas, terutama dari indeks korupsi yang masih tinggi yang dilakukan oknum-oknum birokrasi dan legislator.

"Perlu dijunjung fatsun politik dengan moralitas dan hati nurani yang tinggi bagi para politikus, khususnya akan kasus e-KTP. Di mana, hak azasi manusia warga negara dalam mendapatkan pengakuan dan identitas sebagai tanda pengenal terbengkalai alias tidak mendapatkan KTP dikarenakan belenggu kasus korupsi e-KTP," demikian Andy. [wah]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Kesiapan Listrik dan Personel Siaga PLN Diapresiasi Warga

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:51

Megawati Minta Kader Gotong-Royong Bantu Sumatera

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:35

Muannas Peringatkan Pandji: Ibadah Salat Bukan Bahan Lelucon

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:28

Saksi Cabut dan Luruskan Keterangan Terkait Peran Tian Bahtiar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:53

Rocky Gerung: Bagi Megawati Kemanusiaan Lebih Penting

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:40

Presiden Jerman: Kebijakan Trump Merusak Tatanan Dunia

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:53

Ostrakisme Demokrasi Athena Kuno: Kekuasaan Rakyat Tak Terbatas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:31

Megawati Resmikan Pendirian Kantor Megawati Institute

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:53

Khamenei Peringatkan Trump: Penguasa Arogan Akan Digulingkan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:06

NST 2026 Perkuat Seleksi Nasional SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:36

Selengkapnya