Berita

Nasaruddin Umar/Net

Lorong Sunyi Menuju Tuhan (67)

Spiritual Contemplations: Radikalisme Murakkab

KAMIS, 20 JULI 2017 | 09:17 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

XINJIANG  adalah propinsi yang dihuni mayoritas muslim di RRC. Penduduknya banyak menggunakan bahasa Oighur, yang sangat berbeda dengan bahasa China. Propinsi ini berbatasan langsung den­gan sejumlah Negara seperti India, Pakistan, Afganistan, dan Tajikistan. Postur dan wajah mereka juga lebih mirip atau paling tidak kelihatan blasterannya dengan Negara-negara Asia Barat Daya. Hidung mereka mancung, postur tubuh rata-rata lebih tinggi, rambut hitam. Budaya lokal setempat juga lebih dekat kepada tetang­ganya ketimbang budaya China daratan lainnya. Kekayaan alam mereka sangat mendukung, yaitu pertanian dan pertambangan. Jumlah penduduk yang besar juga merupakan aset penting, apalagi dengan SDM yang lebih terampil.

Kalangan warga propinsi ini sering merepot­kan pemerintah RRC dengan besarnya jumlah angka "kriminal" menurut istilah pemerintah RRC. Kelompok radikal di sana menurut pemerintah ada dua macam, yaitu kelompok separatis, yang beru­saha membebaskan diri dari RRC, dan radikalisme kedua yaitu kelompok yang mendukung gerakan ISIS. Kedua kelompok ini seringkali melancarkan gerakan secara bersamaan, meskipun antara satu sama lain tidak identik. Sasaran-sasaran kelompok di wilayah ini ialah pemerintah yang berdaulat. Mereka meminta merdeka atau memi­sahkan diri dengan pemerintah pusat dan pada saat bersamaan mereka menuntut diberlakukan syari'ah Islam. Fenomena radikalisme di Xinjiang mirip dengan apa yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1960-an, ketika sejumlah kelompok radikal dan separatis menyatu untuk mengusung sebuah ideologi tersendiri. Kita pernah mengenal pem­berontakan Kartosuwiryo di Jawa Barat dan Kahar Muzakkar di Aceh dan Daud Beureuh di Aceh. Tuntutan mereka berduplikasi antara tuntutan ideologi agama dan separatis.

Penduduk Oighur banyak meninggalkan neger­inya lalu meminta suaka politik dengan alasan di negerinya mengalami ancaman keselamatan. Akan tetapi sembari meminta suaka politik, ditemukan juga beberapa komunitas Oighur menjadi anggota ISIS dan ikut aktif mencari pengaruh ke Negara tujuan. Di Indonesia sudah ada empat orang warga Oighur yang ditangkap di wilayah Poso, Sulawesi Tengah untuk bergabung dengan kelompok Santoso dan Daeng Koro. Namun mereka keburu ditangkap sebelum bergabung dengan mereka.


Yang perlu diwaspadai ialah jangan sampai muncul kelompok radikal yang mempunyai jualan ganda, yaitu ideologi agama dan separatism. Kedua hal ini bisa menjadi isu, dengan adanya kenyataan bahwa pertama, ISIS sedang mencari para pejuang yang akan berjuang untuk membentuk Khilafah Islamiyah dan kedua isu ketimpangan pendapatan pusat dan daerah sering diangkat sebagai kekuatan logika untuk membangkitkan emosi massa untuk bergolak. Media publik yang sedemikian bebas berbanding lurus dengan fenomena melemahnya rasa nasionalisme kebangsaan, bisa saja memicu persoalan dengan skala besar.

Angka-angka distribusi pembagian kue pem­bangunan per wilayah dibuka di media publik. Kelihatan secara transparan bahwa ada propinsi penghasil devisa sangat tinggi tetapi daerah terse­but menikmati kurang dari 10 persen pendapatan daerahnya. Sementara daerah lain dengan berlindung di bawah otonomi khusus bisa menikmati lebih dari 20 persen penghasilan daerahnya.

Angka-angka ekstrem seperti ini bisa dipicu den­gan kecemburuan sosial antara wilayah tertentu di Indonesia dengan wilayah Indonesia di bagian Barat, khususnya Pulau Jawa. Bahaya radikalisme perlu dilihat dari berbagai aspek, bukan hanya dari aspek kelompok minoritas muslim yang selalu turun ke jalan. Ketidakadilan yang terpampang di hadapan mata publik bisa memicu persoalan yang tak kalah bahayanya dengan masalah radikalisme agama. Kalangan pemerintah perlu mencermati kemungkinan lahirnya gerakan separatisme.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya