Berita

Tito Karnavian/Net

Politik

Kapolri Sudah Bahas Pensiun Dini Sejak Empat Bulan Lalu

SELASA, 11 JULI 2017 | 11:44 WIB | LAPORAN:

. Ketua Presidum Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane mengaku tidak terlalu terkejut dengan pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Khususnya, terkait rencana pensiun dini oleh jenderal asal Palembang itu.

"Saya tidak tahu persis kenapa Kapolri melontarkan pernyataan siap pensiun dini. Tapi empat bulan lalu saat ngobrol-ngobrol di rumah dinasnya, Kapolri Tito sempat pula menyatakan bahwa dirinya sudah siap meninggalkan Polri tanpa menunggu dirinya pensiun," ungkap Neta kepada Kantor Berita politik RMOL, Selasa (11/7).

Bahkan, lanjutnya, Tito sempat memaparkan beberapa pejabat tinggi (pati) yang dianggapnya layak menjadi Kapolri. Tapi saat itu, kata Neta, dirinya tidak menanggapi serius pernyataan mantan Kapolda Metro Jaya tersebut.


"Karena bagi saya setiap pejabat harus siap diganti kapan pun. Apalagi Tito saya lihat sudah melakukan berbagai penataan di internal Polri. Sehingga kesiapannya meninggalkan polri, sama artinya yang bersangkutan secara normatif sudah menyiapkan proses kaderisasi di tubuh polri," paparnya.

Dalam pandangan IPW, situasi polri saat ini sangat solid. Pasangan Kapolri Jenderal Tito dengan Komjen Syafrudin di posisi wakil, adalah duet ideal antara Akpol 1987 dan 1985.

Tito sebagai Adhi Makayasa (lulusan terbaik) Akpol 1987, tampil dengan kemampuan profesionalnya. Serta, dibackup oleh Syafruddin sebagi figur yang disegani para senior mau pun junior.

Sehingga keduanya relatif ideal dalam menjalankan lokomotif maupun gerbong kepolisian menuju profesionalisme.

"Meski pun terkadang dalam beberapa hal duet Tito-Syafruddin terlihat sangat akomodatif dan kompromistis terhadap beberapa senior," tutur Neta.

Terkait alasan Tito yang mengaku stres dengan tekanan Kapolri, Neta menilainya sebagai hal yang manusiawi.

Setiap manusia, apalagi seorang pemimpin, khususnya memimpin kepolisian pasti ada tekanan yang membuat stress. Meskipun saat Tito memimpin, polri banyak menghadapi masalah, seperti kasus-kasus intoleransi, sara, ancaman kebhinnekaan, kejahatan bersenjata api, terorisme dan gangguan keamanan lainnya.

Tapi dengan kinerja profesionalismenya, mantan Kepala BNPT itu dinilai mampu menyelesaikan masalah tersebut. "Terutama masalah Pilgub Jakarta yang banyak menguras energi Polri, diselesaikan Tito dengan elegan," urainya.

Menurut Neta, setiap pimpinan yang memimpin jabatan publik pasti selalu ada angin yang menggoyangnya. Bahkan, seorang Presiden pun selalu ada yang menggoyang.

Persoalannya, papar Neta, bagaimana figur pemimpin itu menyikapinya. Sikap Tito yang sangat bersahabat, menghormati persahabatan, menghormati senioritas dan menghargai para junior menjadi nilai tersendiri dalam kepemimpinannya.

"Jadi kalau dikatakan ada yang menggoyang, sebenarnya isu itu kalau pun ada relatif landai. Jika dikatakan tidak ada, tentu mustahil. Mengingat Tito melompati lima angkatan," demikian Neta.

Tito sebelumnya mengaku tingkat stress sebagai Kapolri membuatnya berpikir untuk memutuskan pensiun dini. Pilihan tersebut dianggapnya ideal untuk mendapatkan hak less stressfull dan menghabiskan waktu pensiun dengan keluarganya.

"Saya katakan, jadi Kapolri itu penuh dengan kehidupan stressfull. Banyak persoalan-persoalan. Nah, saya juga punya hak menikmati hidup bersama keluarga dalam kehidupan less stress full," usai upacara HUT Bhayangkara di Monas, Jakarta Pusat, Senin kemarin (10/7).

Bahkan Tito menegaskan tidak akan berkecimpung di dunia politik jika pensiun nanti. Menjadi pembicara bertema edukatif menjadi pilihan mantan Kadensus 88 Antiteror itu.

"Saya tidak tertarik pada politik, tak memiliki gen politik. Politik itu banyak tarik-menarik. Saya ingin lari ke dunia pendidikan, jadi pembicara," pungkas jenderal yang memimpin operasi Tinombala tersebut. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya