Berita

Politik

Perang Asimetris Bahaya Bagi Keutuhan Bangsa

SELASA, 11 JULI 2017 | 07:26 WIB | LAPORAN:

. Pengajar di Universitas Pertahanan, Yono Reksoprasodjo mengingatkan bangsa ini untuk mewaspadai perang asimetris.

Sebab menurut dia perang asimetris adalah perang yang terjadi tidak menggunakan senjata fisik melainkan ide-ide untuk menjatuhkan lawan dengan menggunakan strategi-strategi modern. Dimana salah satu pihak bisa hanya terdiri dari satu orang yang bahkan berada jauh dari wilayah sengketa.

"Perang asimetris adalah kondisi perang dimana ada satu atau lebih peserta perang yang memanfaatkan kemampuan dan kekuatan irregular yang tidak tergantung pada besaran pasukan," jelasnya dalam Pengajian Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP-AMPG) dengan tema 'Menangkal Perang: Upaya Penguatan Ideologi Pancasila' di DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (10/7).


Dia menambahkan, tujuan utama dari perang asimetris adalah mengarahkan lawan tanpa harus bertempur. Pemanfaatan taktik, pilihan medan pertempuran yang baru hingga senjata baru dalam berperang inilah yang disebut sebagai langkah taktik asimetrik.

Hadir juga dalam acara itu, politisi Partai Golkar, Aditya Anugrah Moha. Dia mengatakan Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa. Hal ini menurut dia bisa saja digunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk menghancurkan negeri ini. Salah satunya yakni melalui perang asimetris.

"Perang asimetris umumnya bertujuan menyebarkan ajaran-ajaran ideologi radikal untuk mengganti ideologi negara dengan sebuah ideologi tertentu," imbuhnya.

Namun anggota DPR ini meyakini bahwa perang ini sebenarnya dapat dicegah. Caranya adalah dengan melakukan penguatan terhadap pahaman, dan pengamalan atas ideologi Pancasila.

Ketua Harian PP AMPG Bidang Politik Mustafa Radja yang juga ada pada acara tersebut menilai bahwa penting bagi semua elemen bangsa untuk mencegah perang asimetris. Karenanya, dia berkomitmen rutin menggelar diskusi serupa. Hal itu untuk mencari solusi terbaik. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya