Berita

Jaya Suprana/Net

Politik

OPINI JAYA SUPRANA

Politik Embargo

MINGGU, 09 JULI 2017 | 18:35 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

AMERIKA Serikat punya senjata pamungkas politik luar negeri yang - menurut keyakinan Amerika Serikat sendiri - sangat ampuh mandraguna yaitu embargo.

Negara yang dianggap tidak bersahabat dengan Amerika Serikat rawan terkena sanksi embargo alias dikucilkan dari jaringan ekonomi, politik, militer internasional yang dibuat oleh AS atas selera dan kepentingan AS.

"Sedakep"


Negara-negara yang menjadi korban embargo ekonomi AS antara lain Iran, Suriah, Kuba, Korea Utara. Terkini, Saudi Arabia mengajak teman-temannya seperti Mesir, Uni Emirat Arab, Yemen, Oman, Bahrain untuk meniru gaya embargo AS dilakukan terhadap Qatar.

Saya masih ingat bahwa rezim Orba sangat kuatir jatuh menjadi korban embargo AS. Kebijakan luar negeri diatur sedemikian rupa agar jangan sampai bikin AS "ngambek" sehingga mengembargo Indonesia.

Alhasil kita hanya bisa menahan malu ketika terpaksa menyaksikan betapa bos IMF Michael Camdessus arogan "sedakep" menyilangkan kedua lengan di dada mengawasi Pak Harto terpaksa menandatangani Letter of Intent.

Suriah

Penasaran "kenapa takut" embargo Amerika Serikat maka saya menyempatkan diri berkunjung ke Suriah untuk melihat dengan mata kepala sendiri betapa menderita Suriah akibat embargo AS di masa sebelum perang saudara Suriah meledak.

Ternyata pada masa damai itu sama sekali tidak terasa suasana penderitaan di Damaskus dan kota-kota lain Suriah. Kehidupan berjalan aman, tenteram, damai-damai saja.

Bahkan sebagai warga Indonesia saya bangga akibat produk mie instant buatan Indonesia menguasai pasar Suriah sampai perlu didirikan pabrik mie Indofood di Suriah.

Yang tidak ada di Suriah cuma Coca Cola, MacDonald, Kentucky Fried Chicken namun ternyata sama sekali tidak mengurangi suasana gemah ripah loh jinawi, tata tenterem kerta rahardja pada kehidupan masyarakat Suriah.

Di Damaskus, saya sempat jumpa-bincang dengan para mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Suriah. Mereka semua menyatakan senang hidup dan studi di Suriah dengan masyarakat yang ramah tamah, sopan santun dan penuh toleran.

Kuba

Demikian pula dengan mata kepala sendiri, saya menyaksikan betapa kehidupan rakyat Kuba juga tidak seburuk seperti yang dipropagandakan oleh pers Amerika Serikat. Kehidupan di Havana sebagai ibukota Kuba tetap semarak dan dinamis dengan masyarakat Kuba yang ramah tamah senantiasa riang gembira dalam gemar bermusik dan bersalsa. Pelayanan kesehatan Kuba jauh lebih adil dan merata ketimbang Amerika Serikat.

Melalui kunjungan ke Kuba, atas bantuan berharga KBRI di Havana kami berhasil menjalin kerja sama kebudayaan dalam bentuk pertukaran pergelaran resital tunggal pianis muda berbakat antara Indonesia dengan Kuba (Indonesia-Cuba Young Pianist Exchange Programm). InsyaAllah, 23 September 2017 pianis muda Indonesia, Muhammad Iqbal akan mempergelar resital piano tunggal dengan repertoar mahakarya Chopin, Liszt dan Suprana di Havana, Kuba.

Korut

Semua itu merupakan indikasi bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu dikuatirkan terhadap embargo Amerika Serikat. Terakhir tersebar berita bahwa Donald Trump mengancam akan memperketat embargo terhadap Korea Utara sebab tidak suka terhadap sikap perilaku Kim Yong Un yang memang terkesan tidak sudi tunduk kepada Amerika Serikat.

Saya kira silakan saja Trump mengembargo Korut meski dampaknya juga rawan mubazir seperti telah terbukti di Suriah (sebelum kemelut) dan Kuba.

Apalagi Korut tidak tergantung ke Amerika Serikat seperti Korea Selatan, berkat Korut punya sahabat yang sama sekali tidak kalah adhikuasa ketimbang AS yaitu Rusia. [***]

Penulis adalah pembelajar geopolitik planet bumi masa kini

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Purbaya Soal Pegawai Rompi Oranye: Bagus, Itu Shock Therapy !

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:16

KLH Dorong Industri AMDK Gunakan Label Emboss untuk Dukung EPR

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:05

Inflasi Jakarta 2026 Ditargetkan di Bawah Nasional

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:04

PKB Dukung Penuh Proyek Gentengisasi Prabowo

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:57

Saham Bakrie Group Melemah, Likuiditas Tinggi jadi Sorotan Investor

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:51

Klaim Pemerintah soal Ekonomi Belum Tentu Sejalan dengan Penilaian Pasar

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:50

PN Jaksel Tolak Gugatan Ali Wongso pada Depinas SOKSI

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:48

Purbaya Optimistis Peringkat Utang RI Naik jika Ekonomi Tumbuh 6 Persen

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:32

IHSG Melemah Tajam di Sesi I, Seluruh Sektor ke Zona Merah

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:27

Prabowo Dorong Perluasan Akses Kerja Profesional Indonesia di Australia

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:16

Selengkapnya