Berita

Sri Mulyani/RMOL

Politik

Tipu Daya Kaum Mafia Neoliberal Ala Sri Mulyani

RABU, 05 JULI 2017 | 11:58 WIB | LAPORAN:

Pertumbuhan ekonomi yang terus menurun, pengangguran meningkat dan indeks gini ratio yang terus melebar adalah bukti kegagalan tim ekonomi Jokowi yang dikomandoi Sri Mulyani (SMI) dan Darmin Nasution.

Kondisi ini bisa dicermati dari penurunan neraca perdagangan dan keuangan yang tidak sanggup dibendung oleh tim ekonomi Jokowi tersebut mengingat mereka adalah warisan dari pemerintahan di periode sebelumnya.

Demikian ditegaskan Sekretaris Jenderal Pro Demokrasi (Prodem), Satyo Purwanto dalam keterangannya, Rabu (5/7).


"Mestinya mereka lebih paham persoalan karena alasan tersebut patut dicurigai adanya upaya insubordinasi dan upaya pembusukan dari dalam pemerintahan,"  ujar Satyo.

Berbagai macam paket kebijakan ekonomi yang pernah dirilis bukan hanya tidak efektif tapi menurutnya, gagal total untuk meningkatkan kinerja dan performa ekonomi nasional.

"Padahal cukup dari tiga hal saja sehingga kita bisa melihat perbaikan ekonomi, misalnya: peningkatan daya saing industri, peningkatan daya beli masyarakat dan harga pangan yang terjangkau oleh masyarakat," terangnya.
 
Satyo menilai, SMI dan timnya telah memposisikan Indonesia sangat berbahaya karena tidak memiliki kedaulatan politik dan ekonomi. Keuangan diserahkan ke Amerika dan sekutunya, sementara sektor perdagangan diserahkan kepada China. Kondisi seperti ini menjadikan kepentingan nasional Indonesia menjadi subordinasi kepentingan global.

"Artinya, Indonesia untuk menjadi negara besar di kawasan Asia tidak akan pernah terjadi," tegasnya.

Lalu ada standar ganda dalam mekanisme hutang luar negeri dengan penyusunan UU dan Peraturan Pemerintah sehingga memungkinkan adanya intervensi kepentingan asing terhadap kedaulatan ekonomi dan politik Indonesia.

Mengutip pernyataan SMI beberapa hari yang lalu, masyarakat diimbau tidak kuatir meski hutang negara per Mei 2017 tembus Rp 3.672,33 triliun.

"Sungguh terlalu! Lalu setelah itu pajak-pajak dan harga-harga dinaikkan secara progresif, siapa yang paling menderita setelah itu? apakah Presiden? apakah Menteri Keuangan? tentu tidak," kritiknya.

Justru, tegas Satyo, rakyatlah yang makin sulit hidupnya paling menderita karena kebijakan SMI yang mengandalkan pengetatan anggaran, pencabutan subsidi, 'pemalakan pajak' bagi UMKM. Rakyat yang hampir miskin dan rakyat miskin terpaksa membayar semua kebutuhan hidupnya dengan harga yang tinggi.

"Rezim pajak yang dikendalikan oleh SMI ini sangat licik menjadikan tembok Istana sebagai perlindungan mereka dengan selalu mengatasnamakan Presiden, atau dengan alasan demi penyelamatan keuangan negara, demi APBN, demi kemajuan ekonomi, demi nama baik komunitas Internasional dan masih berderet lagi alasan-alasan yang sanggup membuat akal sehat kita menjadi menyimpang karena percaya dengan alasan mereka itu, yang ternyata semua itu hanya tipu daya dari kaum mafia Neoliberal dan Neokolonilalisme ala SMI," urainya.[wid]

 

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Aplikasi Digital Berbasis White Label Dukung Operasional KDKMP

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:59

Wamenaker Fasilitasi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di Multistrada

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:43

DPD Dorong Kemenko Polkam Lahirkan Peta Jalan Keamanan Papua

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:28

Mengoptimalkan Potensi Blue Ocean Economy

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:53

Wagub Lampung Minta Gapembi Kawal Pemenuhan Standar MBG

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:35

Analis Geopolitik: Tiongkok Berpotensi sebagai Global Stabilizer

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:23

Prabowo dan Tumpukan Uang

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:58

ANTAM Tetap Fokus Jaga Fundamental Bisnis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:46

Sukseskan Program Nuklir, PKS Dorong Pembentukan Kembali BATAN

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:23

Paradigma Baru Biaya Logistik

Kamis, 14 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya