Berita

Politik

The End Of Plutocracy

SENIN, 03 JULI 2017 | 15:53 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

SALAH satu strategi plutocratz adalah "divide and rule" via kamuflase rasis. Selain menyebar racun ideologi liberal free-market dan mendukung rezim diktator fasis seperti Agusto Pinochet.

Plutocracy sebagai varian obligarki sulit ditumpas. James Madison, The 4th President of the United States berkata: "Never fear. The iron law of oligarchy always obtains."

Satu-satunya natural dead bagi para plutocrat adalah revolusi sosial. Gap antara kaya-miskin, ekstrim poverty, massive inequality merupakan faktor utama dari semua revolusi.


Jadi, proposal Sri Bintang Pamungkas soal income dan wealth tax tidak mungkin terjadi saat negara dikuasai sepenuhnya oleh "predatory plutocracy" (Joseph Pulitzer). Presiden Indonesia bukan Franklin D Roosevelt yang berani memberlakukan pajak 94% on all income over $200,000. Itu pun digergaji Congress menjadi 86.45%.

Kemiskinan meradang adalah prime mover revolusi Xinhai 1911. Rakyat kelaparan saat Empress Dowager Cixi tidur-tiduran di istana. Dia gunakan dana angkatan laut untuk membangun her own Summer Palace. Menyebabkan kekalahan China dalam Sino-Japanese War (1894-95).

Kemiskinan bikin philosophers enlightenment dan rakyat bangkit melawan Catholic Church dan King Louis XVI di Revolusi Perancis.

Perancis didera krisis finansial. Akibat ikut Seven Years War dan American Revolution. Petani kelaparan. Dissatisfaction terhadap monarki merebak. Alhasil, King Louis dan Maria Antoinette (Madame deficit) dipancung dengan quillotine pada tanggal 22 Januari 1793.

Persoalan injustice memicu 13 states Amerika merilis revolusi dan memisahkan diri dari British Empire.

Plutarch (Greek historian) memberi warning. Dia bilang, "an imbalance between rich and poor is the oldest and most fatal ailment of a Republic".

Komunitas Tionghoa bisa jadi kolateral damage revolusi sosial bila mendukung Chinese plutocratz dan antek-anteknya. Menyatu dengan rakyat terbanyak. Selamatkan Indonesia dari kehancuran.[***]

Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi
 

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Prabowo-Pramono Pasangan Kuat Luar Dalam

Sabtu, 04 April 2026 | 06:08

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Air Bersih Warga

Sabtu, 04 April 2026 | 05:40

Batas ‘Scroll’ Anak

Sabtu, 04 April 2026 | 05:14

Jangan Keliru Pahami Langkah Prabowo soal Kunjungan ke Luar Negeri

Sabtu, 04 April 2026 | 05:12

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

Sabtu, 04 April 2026 | 04:38

Satu Orang Tewas Imbas Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang

Sabtu, 04 April 2026 | 04:03

Negara Harus Tegas atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

Sabtu, 04 April 2026 | 04:00

Mobil Tertimpa Pohon Tumbang di Bandung, Sopir Tewas

Sabtu, 04 April 2026 | 03:38

IAW Peringatkan Potensi Kebocoran Lebih Besar di Bea Cukai

Sabtu, 04 April 2026 | 03:26

Dedi Mulyadi Lunasi Tunggakan Gaji Pegawai Bandung Zoo

Sabtu, 04 April 2026 | 03:03

Selengkapnya