Berita

Bisnis

Ekonomi Piramida Ala Rizal Ramli Dan Harapan OJK Bisa Jadi Pelengkap BI

SENIN, 12 JUNI 2017 | 22:10 WIB | OLEH: ABDULRACHIM K

DI depan Rapat Komisi XI DPR yang mendengarkan pendapat para pakar ekonomi dalam rangka pemilihan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Rabu (31/5) lalu, Rizal Ramli menyatakan bahwa OJK harus menjadi pelengkap peranan dan tugas Bank Indonesia untuk mendorong ekonomi Indonesia. BI hanya mempunyai tugas dan wewenang yang terbatas, yaitu terkait mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas kurs dengan valuta asing.

Namun OJK mempunyai kewenangan yang sangat luas, yaitu pengawasan terhadap bank dan lembaga keuangan non bank artinya OJK juga dapat berperanan besar dalam mengarahkan kemana kredit diprioritaskan, dialirkan. Artinya OJK juga dapat ikut merubah stuktur ekonomi, memperbesar peranan UMKM dalam perekonomiam kita dan mendorong sektor-sektor ekonomi yang di prioritaskan.

Disamping itu OJK juga dapat mengarahkan usaha-usaha besar menjadi pemain internasional yang ekspornya signifikan dalam perekonomian kita. Selain itu OJK juga mempunyai kewenangan mengawasi asuransi, dana pensiun, lembaga jasa pembiayaan dan lembaga keuangan lainnya. OJK juga punya kewenangan untuk mengawasi pasar modal sehingga dapat berperanan besar dalam membesarkan pasar modal.


Oleh karena itu karena mempunyai peranan yang sangat penting dan kewenangan yang sangat luas, pimpinan dan Dewan Komisioner OJK harus mempunyai visi yang kuat dan berintegritas tinggi agar bisa membawa lembaga OJK berperanan bagi kemajuan ekonomi yang kuat, kompetitif didunia internasional dan merata kebawah.

Jadi, pimpinan dan anggota Dewan Komisioner OJK  harus terdiri orang-orang berani, berinisiatif, kreatif, tapi juga harus prudent dan berintegritas tinggi. Jangan hanya diisi oleh birokrat yang tidak berani mengambil resiko, hanya ingin berada di zona nyaman dan bekerja hanya memenuhi peraturan-peraturan yang standard tanpa terobosan.

Dilain pihak bilamana pimpinan dan anggota Dewan Komisioner OJK tidak berintegritas tinggi, OJK bisa disalah gunakan untuk menjadi alat pengumpul uang besar dalam rangka Pilpres 2019.

DR Rizal Ramli Menko Maritim dan Sumber Daya 2015-2016 menyatakan bahwa Struktur ekonomi Indonesia saat ini seperti bentuk gelas anggur. Dimana dibagian atasnya gemuk, besar, dibagian tengahnya yang merupakan kakinya berbentuk kecil, tipis dan dibagian paling bawah yang merupakan dasarnya berbentuk lebar namun sangat tipis.

Yang dibagian atas, yang gemuk itu hanya diisi oleh 200 keluarga yang mempunyai perusahaan konglomerat dan 160 BUMN. Mereka ini yang menguasai bisnis-bisnis besar, namun hanya mampu melakukan sedikit ekspor yaitu pada tahun 2016 hanya sebesar $ 144 Milyar yang mayoritas bahan mentah seperti CPO dan batubara. Kalah jauh dengan Vietnam yang encapai $ 169 Milyar yang 3 besarnya adalah gadget (handphone Samsung) ,Textil dan komputer-elektronik.

Yang dibagian tengah yang tipis adalah usaha menengah-besar yang mempunyai omzet bisnis yang juga hanya menengah-besar. Yang dibawah sangat tipis adalah UKM  yang omzetnya hanya kecil menengah. Mereka ini hanya mempunyai keuntungan yang sangat tipis yakni 5 persen, namun tenaga pemiliknya sendiri tidak dihitung sebagai biaya, tempatnya digarasi tidak dihitung sewanya dan sebagainya.

Menurut Rizal Ramli struktur ekonomi seperti gelas anggur harus dirubah menjadi struktur ekonomi yang sehat, yaitu yang berbentuk seperti piramida. Seperti Jepang yang ekspornya kuat, dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang komponen-komponennya dipasok oleh perusahaan-perusahaan menengah dan kecil. Manfaatnya bisa dirasakan oleh perusahaan dari kelas dunia sampai dengan perusahaan kecil, namun bila terjadi kondisi ekonomi yang kurang baik, resikonya bisa ditanggung oleh banyak pihak pula.

Kembali kepada masalah pimpinan dan Dewan Komisioner OJK yang mempunyai kewenangan yang sangat luas, maka Rizal Ramli mengharapkan bahwa OJK harus bisa merubah strktur ekonomi kita melalui pengarahan-pengarahan kebijakan pemberian kredit dan sebagainya. Jangan hanya menjalankan bisnis as usual karena akan kehilangan momentum selama 5 tahun kedepan.[***]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya