Berita

Gatot Nurmantyo dan Tommy Winata/Puspen TNI

Politik

Doktrin Mandat Langit

SENIN, 12 JUNI 2017 | 15:44 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

TANGGAL 11 Juni 2016, fitnah kembali marak. Pasca saya broadcast foto Tommy Winata bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Mereka sedang lepas anak macan Sumatera di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC).

TWNC adalah hutan konservasi seluas 45 ribu hektar di Lampung. Pemiliknya Tommy Winata. Tanggal 16 July 2014, TWNC menerima Panthera award akibat sukses melestarikan eksistensi Macan Sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Majalah TIMES pernah mencibir taman ini sebagai tempat latihan Kopassus. Amerika nggak suka. Tapi saya suka. Pantas aja, Kopassus jadi elite troops. One of the best. In the world. Mereka latihan survival di hutan penuh macan. Salah sedikit, bisa tewas dimakan macan.


Seakan mendapat pelor baru, orang sirik serang saya (again) sebagai "Antek TW". Padahal, sudah dibilangin saya "orangnya" Letnan Jenderal Prabowo Subianto. Tapi tetep aja mereka ngeyel. Malah sekarang mereka serang Jenderal Gatot Nurmantyo. Mereka benar-benar absurd.

Mereka heran, kok saya dan Lieus bisa dengan mudah ngobrol dengan Tommy Winata. Padahal menurut mereka, para pejabat dan aktifis kesohor saja sulit ketemu Tommy Winata.

Saya ngga tau soal itu. Tapi ya mungkin saja sulit kalo tujuannya minta proyek atau menjilat.

Tommy, Lieus dan saya sama-sama Buddhist. Tommy sempat bergurau. Dia bilang, "Gua rasa kalian berdua (Lieus dan saya) sulit bisa kaya. Sebabnya, kalian "Anak Buddha". Mestinya, punya hubungan lebih dekat dengan Buddha. Bukan sekedar "anak". Seperti gua."

Beberapa teman kuatir, Tommy Winata bakal pengaruhi sikap dan keberpihakan saya.

Saya kira, itu berlebihan. Tommy Winata ada di barisan pro Ahok. Saya kontra Ahok. Dan Ahok sudah tumbang. Case is closed. Saya puji Tomny Winata karena bersikap satria. Ngga ngambek seperti ahoker lain. Lagipula, bagaimana mungkin pihak yang kalah mempengaruhi pihak yang menang. Lieus dan saya ada di pihak yang menang pilkada. Yang ada mungkin sebaliknya.

Hal lain terkait Tommy Winata adalah dia pro Jokowi. Baginya, siapa pun presidennya, mesti dia dukung total. Sebabnya karena dipilih rakyat. Jadi siapa pun yang dipilih rakyat, Tommy Winata merasa wajib loyal.

Saya kira, sikap ini bersumber pada etika Confucianism. Kongzi mengajarkan rakyat harus patuh dan loyal kepada Kaisar (presiden). Karena Kaisar memiliki Mandat Langit atau tianming (Mandate of Heaven doctrine). Doktrin ini mirip prinsip ‘divine right of kings’ di Eropa.

Salah satu varian dari doktrin "tianming" adalah filosofi Legalist atau Fǎ-Jiā (法家). The First Emperor (Qin Shi Huangdi) menerapkan prinsip-prinsip Legalistik. Saya kira, Tommy Winata menganut filsafat Fa-Jia ini. Ngga heran bila dia sangat patuh konstitusi. Karena itu, dia loyal kepada Mr. President.

Saya juga penganut Confucianism. Leluhur saya, Zengzi (曾參) adalah murid Konghucu yang paling setia. He is revered as one of the "Four Sages" of Confucianism. Zengzi adalah penulis kitab-kitab suci Konghucu seperti "Classic of Filial Piety".

Menurut Yao Xinzhong, "Confucianism was not merely a passive tool of government. It functioned, to a considerable extent, as a watchdog for ruling activities”.

Sama seperti Tommy Winata, saya juga menganut doktrin "Mandate of Heaven". Bedanya, bila Tommy Winata merasa harus selalu loyal kepada presiden, saya mengadopsi "the right of rebellion". Menurut Kongzi, Mandat Langit bisa dicabut bila "the emperor and his government failed to govern responsibly, mistreated the people or abused their power, their authority to rule could be withdrawn".

Menurut Prof Ching Yip, salah satu indikator seorang kaisar yang mulai kehilangan mandat langitnya adalah pemberontakan petani. Dalam konteks modern, maraknya demonstrasi mahasiswa, buruh dan elemen masyarakat lain adalah indikator seorang presiden mulai kehilangan Mandat Langit.[***]


Penulis Merupakan Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak)


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya