Berita

Politik

5 Hari Sekolah Fasilitasi Gerakan Radikal

SENIN, 12 JUNI 2017 | 14:43 WIB | LAPORAN:

Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendy, yang akan memberlakukan sekolah lima hari mendapat kritik tajam dari Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, Amizar Isma.

Amizar mengatakan, masih banyak yang harus dikaji lebih lanjut terkait perubahan jam belajar siswa. Menurut dia, kesalahan pertama Kemendibud kurang menimbang dan mengakomodir aspirasi berbagai pihak.

"Ini masalah bangsa yang sangat vital. Harusnya pihak Kemendikbud bisa menginisiasi untuk mengundang berbagai elemen pendidikan yang ada selama ini untuk mengukur manfaat dan mudhorotnya dari kebijakan tersebut," tuturnya, Senin (12/6).


Kebijakan sekola lima hari dicermatinya memiliki efek yang sama dengan konsep kebijakan full day school yang beberapa waktu lalu sempat ditolak dari berbagai pihak karena belum matang.

"Ini sama saja dengan konsep full day school, dengan lima hari waktu sekolah berarti ada penambahan waktu setiap harinya menjadi delapan jam waktu sekolah. Ini nggak bener ini. Anak-anak pasti akan terenggut waktu bermain dan bersosialisasinya dengan teman sebayanya," kritiknya.

Alih-alih sebagai bagian program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Mizar menilai justru hal ini sangat berpotensi akan menjadi “payung” kaum radikal yang selama ini menginfiltrasi ekstrakulikuler sekolah.

"Ini sama saja melegitimasi dan menfasilitasi gerakan radikal yang selama ini telah menginfiltrasi ekstrakulikuler sekolah-sekolah kita," tambahnya.

Mizar menambahkan, ada kekuatiran berbagai pihak akan hangusnya lembaga pendidikan non-formal seperti madrasah yang biasanya digelar setiap hari sepulang sekolah. Belum lagi siswa yang pulang sore akan sangat lelah jika malam harinya harus keluar ke masjid atau tempat ustadz belajar ilmu agama.

Sekalipun ada niat mengakomodir lembaga pendidikan non-formal dari pihak Kemendikbud seharusnya sudah ada konsep dan rumusannya.

"Saya pikir hal ini juga perlu dipertimbangkan oleh Pak Menteri. Ini malah akan merusak tradisi kita. Kasihan anak-anak kalau sekolah sudah sampai sore lalu malam harinya harus ngaji ketempat guru atau kyai. Apa iya kebijakan ini maksudnya itu? kan ini sama saja mencari tikus dengan cara membakar lumbung pagi," terangnya.[wid]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Prabowo Joget Tabola Bale Bersama Warga Miangas

Sabtu, 09 Mei 2026 | 15:08

Pengamat Nilai Kritik Amien Rais ke Seskab Teddy Masuk Ranah Privat

Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:55

Perempuan Bangsa Dampingi Santriwati Korban Kekerasan Seksual di Pati

Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:11

Prabowo Dorong Dialog ASEAN Hadapi Krisis Myanmar dan Konflik Perbatasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:00

ASEAN Perkuat Ketahanan Pangan dan Energi Hadapi Krisis Global

Sabtu, 09 Mei 2026 | 13:35

Konflik AS-Iran Mendorong Harga Pangan Global ke Level Tertinggi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 13:17

Lisa BLACKPINK Dipastikan Tampil di Opening Piala Dunia 2026

Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:56

Survei NRI: Kepuasan Publik terhadap Prabowo-Gibran Tembus 80 Persen

Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:45

Waspada Hantavirus dari Tikus, Ini Cara Mencegah Penyebarannya

Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:33

Brimob Diterjunkan Saat Penggerebekan Judi Online Internasional di Jakbar

Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:22

Selengkapnya