Berita

Wiranto/net

Politik

Minta Tambahan 6 Miliar Khusus Tangani Ormas Anti Pancasila, Wiranto: Tak Usah Diributkan

JUMAT, 09 JUNI 2017 | 20:23 WIB | LAPORAN:

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengaku jika tambahan anggaran sebanyak Rp 6 miliar khusus untuk menangani ormas anti Pancasila adalah wajar.

"Uang itu boleh dikatakan besar dan boleh dikatakan tidak besar. Tergantung kegiatannya nanti. Yang dikelola kan bukan 1 atau 2 ormas, tapi ratusan ribu ormas, diteliti, dianalisis, mana yang tidak bertentangan dengan Pancasila," kata Wiranto kepada wartawan di bilangan Jakarta Selatan, Jumat (9/6).

Wiranto juga menambahkan, kerja pemerintah untuk mengawasi dan menangai ormas anti pancasila bukan kerja yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat.


Jadi kata mantan panglima ABRI era Suharto itu, angka Rp 6 miliar yang akan dikerjakan oleh polhukam, menteri dalam negeri dan menteri hukum dan HAM itu harusnya tidak perlu dipermasalahkan.

"Kerjanya ini tidak hanya satu-dua hari, tapi lama sekali. Itu kan usulan saja, tidak usah diributkan, diberi berapa saja kita terima," kata Wiranto.

Permintaan tambahan anggaran itu disampaikan Wiranto saat rapat dengan Badan Anggaran DPR di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (8/6) kemarin.
Untuk tahun 2018, pagu anggaran bagi kementeriannya sebesar Rp 283,631 miliar. Adapun perincian alokasi tambahan anggaran Rp 60 miliar yang diminta sebagai berikut:

1. Koordinasi pemberantasan penyelundupan: Rp 5,5 miliar
2. Koordinasi relokasi Lapas: Rp 6 miliar
3. Koordinasi kerukunan nasional: Rp 7 miliar
4. Koordinasi pembentukan Pusat Penanganan Krisis Nasional: Rp 6,5 miliar
5. Koordinasi pemerataan kekuatan TNI: Rp 6 miliar
6. Koordinasi revisi UU Terorisme: Rp 6,5 miliar
7. Koordinasi program Gerakan Indonesia Tertib: Rp 6 miliar
8. Satgas Propaganda Agitasi dan Provokasi: Rp 6 miliar
9. Revitalisasi Dewan Ketahanan Nasional: Rp 7,5 miliar
10. Penanganan Ormas yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila: Rp 6 miliar.[san]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya