Berita

Politik

Jaga Indonesia Dibentuk Untuk Melawan Kelompok Radikal Intoleran

JUMAT, 09 JUNI 2017 | 19:40 WIB | LAPORAN:

Sejumlah aktivis, budayawan, dan akademisi membentuk wadah perjuangan bernama Jangan Ganggu Indonesiaku (Jaga Indonesia) untuk mencegah dan menanggulangi radikalisme dan intoleransi yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan RI.

Salah satu penggagas Jaga Indonesia, Boedi Djarot, mengatakan, wadah ini bukan organisasi masyarakat melainkan merupakan program dukungan (supporting programe).

"Jaga Indonesia adalah gerakan yang siap secara mental dan fisik merajut kembali nilai-nilai budaya luhur bangsa yang terkoyak oleh perilaku politik kelompok tertentu yang mengedepankan radikalisme dan intoleransi, dan mengancam keutuhan NKRI dengan berniat menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah," kata Boedi dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Jumat (9/6).


Boedi menegaskan, organisasinya tidak akan membenarkan segala bentuk perilaku politik yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 bisa hidup di lndonesia.

"Tidak ada kompromi dan toleransi terhadap perjuangan politik apapun yang ingin menggantikan Pancasila dan UUD 45 dengan ideologi lain dan sistem pemerintahan apapun," tegasnya.

Pendiri lainnya, Mohamad Sobary, mengakui nama "Jaga Indonesia" dipilih dengan sangat serius. Dia berharap, gerakan Jaga Indonesia dengan semboyan"Jangan Ganggu Indonesiaku" bukan sekadar kata-kata manis di bibir. Di mata Sobary, salah satu gangguan dan ancaman besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia adalah gerakan radikalisme yang  mengatasnamakan Islam. Mereka menebarkan kebencian terhadap agama lain dan melakukan kekerasan untuk memaksakan kehendak.

Jaga Indonesia menyatakan dukungan kepada langkah pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Organisasi itu dianggap berpaham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila dan prinsip-prinsip kebangsaan.

Peneliti senior Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, yang juga inisiator Jaga Indonesia, mengatakan, penanaman Pancasila sebagai dasar negara melalui sistem pendidikan dan kebudayaan merupakan salah satu cara efektif untuk menangkal gerakan radikalisme.

"Peran Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP PIP) yang dibentuk Presiden Jokowi harus menjawab permasalahan tersebut. Tantangan terbesarnya adalah melakukan penbinaan terhadap kelompok organisasi radikal yang sudah militan secara ideologis," katanya. [ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya