Berita

Politik

Indonesia Sangat Kaya, Tapi Kekurangan Kapital Untuk Membangun

KAMIS, 08 JUNI 2017 | 18:53 WIB | LAPORAN:

Peluncuran dan bedah buku Building A Ship While Sailing karya Setyono Djuandi Darmono atau lebih dikenal dengan panggilan S.D. Darmono, digelar di The President Lounge, Menara Batavia, Jakarta.

Hadir dalam acara ini di antaranya adalah mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mohammad Mahfud M.D.

"Judulnya terinspirasi oleh kata-kata Prof. Emil Salim, seorang ahli ekonomi, cendekiawan, pengajar, dan politisi lndonesia bahwa 'kita ini membangun negeri seperti membangun kapal sambil berlayar'," kata Darmono di tengah acara tersebut.


Buku Building A Ship While Sailing diakuinya sebagai refleksi dan kontribusi dalam membantu pemerintah mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Berisi pandangan Darmono mengenai banyak permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, tidak hanya dalam pembangunan ekonomi.

"Buku ini mengajarkan manusia-manusia untuk hidup dengan watak yang luhur, dan juga selalu melihat sejarahnya. Kita ini kumpulan dari 17 ribu pulau dan banyak suku bangsa. Bagaimana kita menyatukannya? Perlu kesabaran. Mengundang para investor dari luar negeri tanpa merasa curiga, memusuhi," ujar pendiri Jababeka Group ini.

"Karena meskipun negeri ini kaya sekali dengan kekayaan alamnya, sumber dayanya, tapi kita kurang sekali dalam hal kapital untuk membangun negara," tambahnya.

Profesor Komaruddin Hidayat menjadi tokoh yang memberi kata pengantar dalam buku itu. Menurutnya, buku ini refleksi tentang ke-Indonesian yang bisa menjadi roadmap untuk menggapai lndonesia sejahtera. Jalan-jalan itu diuraikan secara mendalam penuh makna.

"Alam pikiran pembacanya dibawa menuju rumah Indonesia yang hidup, terang, penuh peluang. dan harapan. Spirit keindonesiaan yang dinyalakan dalam buku ini tidak hanya dipantik oleh romantisme kesejarahan masa lalu, namun juga bagaimana bangsa besar yang meraih kemerdekaan dengan berdarah-berdarah ini bangkit melanjutkan perjuangan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada untuk keluar dari jepitan persaingan global negara-negara penguasa ekonomi dunia," urai Komaruddin. [ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya