Berita

Politik

WTP Jangan Dijadikan Patokan Tunggal

KAMIS, 01 JUNI 2017 | 01:33 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Minimnya kredibilitas dan integritas mendorong pejabat negara berbuat curang dengan menyuap BPK untuk mengubah hasil pemeriksaan laporan keuangannya.

Begitupun sebaliknya, kredibilitas dan integritas yang minim juga menggiring pejabat BPK ke arah pragmatisme. Benang kusut ini terjadi bertahun-tahun tanpa ada perubahan yang berarti.

Begitu kata anggota Komisi XI DPR RI Donny Priambodo menanggapi praktik suap dari oknum Kemendes PDTT ke BPK untuk mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).


"Sebagai abdi negara seharusnya menyadari kapasitasnya seperti apa. Pegawai negeri sipil harus mempunyai mentalitas yang kuat supaya tidak tergiur, karena kesempatan untuk korupsi akan selalu ada walau hukumnya sudah diperketat," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (31/5).

Politisi Nasdem ini mempertanyakan alasan WTP menjadi patokan tunggal terhadap kinerja daerah. Padahal, menurutnya, efektivitas kinerja daerah melalui key performance indicator lebih penting ketimbang WTP.

Donny menilai, bisa saja suatu lembaha mendapat opini WTP tapi di satu sisi tidak melakukan kewajiban dengan baik ke masyarakat.

"Harusnya ada sebuah penilaian yang menyeluruh alias tidak parsial. WTP ini jangan jadi patokan tunggal, audit performa daerah juga harus juga diukur. Jangan-jangan dapat WTP tapi pelayanan, dan pemenuhan kewajiban pemda terhadap masyarakat kurang baik," pungkas Donny. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya