Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Setelah WannaCry, Siap-siap Waspadai Adylkuzz

KAMIS, 18 MEI 2017 | 18:43 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Serangan siber skala besar lainnya seperti yang terjadi akhir pekan kemarin saat ini tengah dipersiapkan.

Begitu kata sebuah firma keamanan dunia, Proofpoint pekan ini.

Serangan baru yang dipersiapkan ini ini menargetkan kerentanan yang sama dengan worm ransomware WannaCry yang menjadi sorotan global pekan lalu. Namun alih-alih membekukan file, serangan kali ini akan menggunakan ratusan ribu komputer untuk menambang mata uang virtual.


Nicolas Godier, periset di Proofpoint menyebut bahwa setelah mendeteksi serangan WannaCry pada pekan lalu, periset di Proofpoint menemukan sebuah serangan baru yang terkait dengan WannaCry yang disebut Adylkuzz.

"Ini menggunakan alat hacking yang baru-baru ini diungkapkan oleh NSA dan yang telah diperbaiki oleh Microsoft dengan cara yang lebih sembunyi dan untuk tujuan yang berbeda," katanya seperti dimuat AFP.

Alih-alih benar-benar menonaktifkan komputer yang terinfeksi dengan mengenkripsi data dan mencari uang tebusan, Adylkuzz menggunakan mesin yang terinfeksi untuk mentransfer mata uang virtual Monero, dan mentransfer uang yang dibuat ke penulis virus tersebut.

Serangan ini bekerja di latar belakang sehingga pengguna mungkin tidak sadar bahwa mesinnya telah terinveksi.

Proofpoint mengatakan di sebuah blog bahwa gejala serangan tersebut meliputi hilangnya akses terhadap sumber daya Windows bersama dan penurunan kinerja PC dan server, efek yang mungkin tidak diketahui oleh beberapa pengguna.

"Karena diam dan tidak mengganggu pengguna, serangan Adylkuzz jauh lebih menguntungkan bagi penjahat siber. Virus tersebut mengubah pengguna yang terinfeksi menjadi pendukung keuangan penyerang tanpa disadari," kata Godier.

Proofpoint mengatakan telah mendeteksi mesin yang terinfeksi yang telah mentransfer Monero beberapa ribu dolar ke pencipta virus tersebut.

Perusahaan tersebut yakin bahwa Adylkuzz telah lepas landas sejak paling tidak pada tanggal 2 Mei, dan mungkin bahkan sejak 24 April, namun karena sifatnya yang tersembunyi, maka tidak terdeteksi segera

"Kami tidak tahu seberapa besar itu, tapi ini jauh lebih besar dari WannaCry", kata wakil presiden Proofpoint Robert Holmes. [mel]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya