Berita

Dunia

Korea Utara akan Menyapu Bersih Intelijen Asing di Dalam Negeri

SELASA, 16 MEI 2017 | 19:28 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Korea Selatan dan Amerika Serikat dituding sedang berupaya menyusupkan mata-mata untuk melakukan aksi teror dengan menargetkan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un. Baru-baru ini Korea Utara menangkaop seorang pria yang terbukti dimanfaatkan oleh pihak intelijen asing untuk melancarkan serangan dari dalam Korea Utara.

Begitu bunyi keterangan yang dirilis oleh Kedutaan Besar Korea Utara di Jakarta awal pekan ini.

Dalam keterangan tersebut, pihak Korea Utara menjelaskan bahwa pihak yang disponsori oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan memiliki rencana teror dengan menggunakan bahan bio-kimia berbentuk nano.


Susunan bahan bio-kimia tersebut, klaim Korea Utara, hanya diketahui dan diproduksi oleh CIA.

Selain telah melakukan transaksi dana dengan Korea Utara, dua negara tersebut juga telah melakukan latihan militer bersama untuk menggulingkan pemerintahan Korea Utara.

Bahkan, dalam pernyataan yang sama, mereka menilai rencana teror itu menargetkan acara Istana mataharai Kumussan dan parade militer serta pawai rakyat.

Badan intelijen Korea Selatan disebut telah menyampaikan perintah tentang rencana teror tersebut sebanyak 80 kali.

Korea Utara menilai bahwa langkah itu sudah sampai pada tahap yang tidak bisa dibiarkan sehingga Kementerian Keamanan Negara Korea Utara mengeluarkan sikap tegas awal Mei ini.

Kementerian Keamanan Negara Korea Utara menilai bahwa hal itu bukan hanya pelanggaran keamanan negara yang berdaulat, tapi juga pengumuman perang.

Karena itu, Kementerian Keamanan Negara menegaskan akan mulai melakukan serangan gaya anti-teror untuk menyapu intelijen AS dan Korsel.

"Akibat manuver AS membawa perlengkapan perang di ambang pintu, maka Semenanjung Korea kini berada di situasi gawat dan bisa pecah perang nuklir kapan saja," begitu penegasan yang disebutkan dalam keterangan yang sama. [mel]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya