Berita

Ilustrasi/CNA

Dunia

Penyidik Internasional Buru Hacker Di Balik Serangan Siber Global

MINGGU, 14 MEI 2017 | 17:12 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Penyidik ​​internasional memburu orang-orang di balik serangan cyber yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mempengaruhi sistem di belasan negara, termasuk bank, rumah sakit dan agen pemerintah.

Serangan tersebut, yang dimulai pada hari Jumat (12/5)  digambarkan sebagai serangan uang tebusan cyber terbesar, menyerang lembaga negara dan perusahaan besar di seluruh dunia, mulai dari bank-bank Rusia dan rumah sakit Inggris hingga pabrik-pabrik mobil FedEx dan Eropa.

"Serangan baru-baru ini pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dan akan membutuhkan penyelidikan internasional yang kompleks untuk mengidentifikasi penyebabnya," kata Europol, badan kepolisian Eropa.


Europol mengatakan sebuah gugus tugas khusus di European Cybercrime Center-nya dirancang khusus untuk membantu investigasi semacam itu dan akan memainkan peran penting dalam mendukung penyelidikan.

Serangan tersebut menggunakan ransomware yang tampaknya memanfaatkan celah keamanan pada sistem operasi Microsoft, mengunci file pengguna kecuali jika mereka membayar jumlah tertent dalam mata uang virtual Bitcoin.

Gambar muncul di layar korban yang meminta pembayaran sebesar US $ 300 di Bitcoin, dengan mengatakan: "Ooops, berkas Anda telah dienkripsi!"

Para korban dituntut untuk membayarkan tebusan dalam waktu tiga hari atau harganya akan melonjak dua kali lipat, dan jika tidak ada yang diterima dalam tujuh hari maka file akan dihapus, sesuai dengan pesan layar.

Namun para ahli dan pemerintah sama-sama memperingatkan agar tidak menuruti permintaan para hacker tersebut.

"Membayar uang tebusan tidak menjamin file terenkripsi akan dirilis," kata tim tanggap darurat komputer Departemen Dalam Negeri AS.

"Ini hanya menjamin bahwa pelaku kejahatan menerima uang korban, dan dalam beberapa kasus, informasi perbankan mereka," jelasnya.

Para ahli dan pejabat menawarkan perkiraan yang berbeda mengenai cakupan serangan tersebut, namun semua sepakat bahwa hal itu sangat besar.

Mikko Hypponen, chief research officer di perusahaan keamanan cyber yang berbasis di Helsinki F-Secure, mengatakan kepada AFP bahwa itu adalah wabah ransomware terbesar dalam sejarah, dengan mengatakan bahwa 130.000 sistem di lebih dari 100 negara telah terpengaruh.

Dia mengatakan Rusia dan India terkena pukulan keras, terutama karena Microsoft Windows XP, salah satu sistem operasi yang paling berisiko, masih banyak digunakan di dua negara tersebut. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya