Berita

Jusuf Kalla/Net

Nusantara

JK: Kembangkan Kultur Sadar Bencana

SELASA, 09 MEI 2017 | 03:13 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Wakil Presiden M. Jusuf Kalla mengingatkan agar masyarakat Indonesia meningkatkan kultur sadar bencana.

"Meningkatnya bencana di Indonesia perlu diantisipasi dengan mengembangkan kultur sadar bencana untuk mengurangi risiko bencana. Bencana bersifat multidimensi sehingga semua ilmu harus memberikan solusi terhadap bencana. Selalu dinamis dan harus dapat dilakukan preventif," ujar JK.

Demikian disampaikan JK saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-4 dan Munas Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) di Balairung Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, Senin (8/5). Hadir dalam acara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei.


"Saya sharing pengalaman. Sebab salama 17 tahun saya ikut serta dalam penanganan bencana. Sejak menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat yang merangkap Ketua Bakornas, kemudian menjadi Ketua PMI. Apalagi saya terjung langsung menangani tsunami Aceh yang demikian dahsyat, kemudian gempabumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Lalu gempa Sumatera Barat dan bencana lainnya. Kultur kebiasaan masyarakat di Simeulue sudah menjadi kultur masyarakat Indonesia saat ini. Begitu merasakan gempa besar langsung berlari ke bukit. Saat tsunami Aceh, kultur masyarakat Simeulue ini telah menyelamatkan warga sekitar. Hanya ada korban 10 jiwa, sedangkan di Aceh yang tidak memiliki kultur ini korbannya lebih dari 100 ribu jiwa," tambah JK dalam rilis Humas BNPB.

JK juga menyampaikan bahwa ternyata intensitas gempa tidak simetris dengan korban gempa.

"Kita lihat gempa 6,3 SR di Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 menelan korban 5.700 jiwa meninggal, sedangkan gempa 7,6 SR di Sumatera Barat menyebabkan 1.700 orang meninggal dunia. Dampak gempa tergantung pada lokasi, waktu dan kondisinya. Di Yogya penduduk lebih padat, rumah beratap genteng, kejadian pada subuh. Sedangkan gempa di Sumatera Barat terjadi pada sore hari dengan penduduk yang tidak sebanyak di Jawa," ungkapnya.

Jadi, lanjut JK, ada empat hal yang harus dijawab para peneliti, akademisi dan praktisi. Yaitu, apa, dimana, kenapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi? Iptek harus mampu memprediksinya secara tepat.

Dan untuk dapat mengatasi bencana, terang JK, maka ada tiga tahapan yaitu pertama tanggap darurat. Prioritas adalah penyelamatan korban. Kedua adalah rehabilitasi, dan ketiga rekonstruksi.

"Saat pasca tsunami, pemerintah menetapkan tanggap darurat selama tiga bulan, kemudian rehabilitasi tiga bulan dan selanjutnya rekonstruksi selama tiga tahun. Hal yang sama juga kita lakukan saat penanganan gempa Yogyakarta. Cepatnya penanganan bencana ini menjadi contoh dunia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan penghargaan Global Champion for Disaster Risk Reduction kepada Pemerintah Indonesia," lanjutnya.

Terakhir, JK juga meminta agar bencana makin meningkatkan kesadaran akademisi dan ilmuwan untuk mencari inovasi dan kreativitas sehingga korban bencana darpat dikurangi.

Selama tiga hari 8-10 Mei, para ahli nasional dan internasional di bidang kebencanaan akan saling berbagi pengalaman, sharing knowledge serta brainstorming secara komprehensif terkait kebencanaan dan mensinergikan sains, teknologi, dan inovasi terkait kebencanaan.

Dengan tema 'Peran Masyarakat Bagi Pencapaian SDGs: Kontribusi Pemangku Kepentingan Untuk Penurunan Risiko Bencana', diharapkan pertemuan ilmiah ini mampu menghasilkan keluaran berupa tersusunnya Blue Print Riset Kebencanaan sebagai acuan dalam perencanaan dan penganggaran sesuai dengan kebutuhan penanggulangan bencana di Indonesia. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Prabowo Apresiasi Rahmat Erwin Usai Raih Emas dan Pecahkan Rekor Dunia

Minggu, 27 September 2026 | 12:11

Partai Koalisi Bela Prabowo Mati-matian tapi Diam Saat Gibran Dikritik

Minggu, 27 September 2026 | 12:05

Daftar 10 Wilayah Terpanas 27 September 2026, Suhu Capai 37,4 Derajat

Minggu, 27 September 2026 | 11:57

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Spesifikasi Samsung Galaxy A08 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 6.000 mAh

Minggu, 27 September 2026 | 11:37

Indonesia Calonkan Diri untuk Kursi Tidak Tetap DK PBB Periode 2029-2030

Minggu, 27 September 2026 | 11:04

Tak Ada Satupun Partai Koalisi Pasang Badan saat Gibran Hadapi Gugatan Ijazah

Minggu, 27 September 2026 | 10:31

KPK Amankan Perhiasan Diduga Emas Saat Geledah Kanwil BPN Jatim

Minggu, 27 September 2026 | 10:17

Perang Abad 21 Sudah Dimulai, tapi Mukan di Medan Tempur

Minggu, 27 September 2026 | 10:05

Sugiono: RI Percaya PBB, Tapi Multilateralisme Harus Lebih Representatif dan Gesit

Minggu, 27 September 2026 | 09:27

Selengkapnya